Temukan Wayang Timplong di Museum Leiden

Nganjuk, koranmemo.com – Wayang Timplong yang merupakan karya seni asli khas Nganjuk ternyata sudah mendunia. Hal itu terbukti dengan ditemukannya beberapa buah wayang tersebut di Museum Internasional, Leiden, Negeri Belanda. Buah wayang berkarakter Panji itu kondisinya masih utuh dan belum terdapat kerusakan yang berarti.

Menurut Matthew, warga Belanda melalui sahabatnya Badar, yang juga seorang dalang asal Jalan Mastrip, Nganjuk, wayang Timplong tersimpan bersama wayang-wayang lainnya di Museum Leiden. “Jumlahnya mencapai ratusan, tersimpan dengan rapi di museum,” ujarnya.

Padahal, bahan dasar wayang Timplong terbuat dari kayu. Menurut cerita, wayang Timplong rata-rata terbuat dari kayu waru, pinus atau mentaos, karena teksturnya yang halus dan ringan. Sehingga, ketika dimainkan dalam pergelaran, terasa ringan.

Tampaknya, kondisi buah-buah wayang yang berada di Museum Leiden sedikit berbeda dengan kondisi wayang Timplong yang saat ini ada di Kabupaten Nganjuk. Bila wayang timplong yang sekarang ada, tampak kasar dengan guratan-guratan asesorios pada tubuh wayangnya. Sehingga, penampilan wayang seperti gambar mati atau lukisan dua dimensi. Namun jenis tokoh wayang relatif masih sama.

Sedangkan wayang timplong asli yang ada di Leiden, hampir seluruh bentuknya halus, mulai  guratan-guratan asesoris hingga pewarnaan yang menempel. Seperti cara pembuatannya tidak asal, benar-benar penuh perhitungan dan kesabaran, sehingga tampilan wajahnya seperti hidup. Hal menarik pada kondisi asli wayang Timplong dari Leiden tersebut, ujud kayu masih terlihat jelas. Meski pipih, bentuknya menyerupai gambar tiga dimensi.

Sumadi, budayawan Nganjuk menyampaikan, kesenian tradisional ini konon mulai ada sejak tahun 1910-an dari Dusun Kedung Bajul Desa Jetis Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Wayang ini terbuat dari kayu, baik kayu waru, mentaos, maupun pinus. Instrumen gamelan yang digunakan sebagai musik pengiring, juga sangat sederhana. Hanya terdiri dari Gambang yang terbuat dari kayu atau bambu, ketuk kenong, kempul dan kendang.

Wayang timplong pertama kali dibuat oleh Mbah Boncol, karena kegemarannya masa kecil senang menonton pertunjukkan kesenian wayang Klithik yang berinisiatif membuat wayang baru yang berbeda dengan wayang lainnya dan semata mata untuk hiburan.

Keahlian mendalang mbah Bancol diturunkan kepada putranya Ki Karto Guno hingga Ki Tawar. Hanya sekarang, perkembangannya proses pewarisan mendalang wayang Timplong bukan lagi dari garis keturunan, yang mengakibatkan banyak bermunculan dalang-dalang wayang Timplong yang berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Nganjuk luar Desa Jetis.

Pada awalnya kesenian wayang Timplong dipentaskan sebagai sarana hiburan namun kini menggalami perubahan kesenian wayang Timplong lebih banyak dipentaskan sebagai sarana ritual upacara seperti ruwatan dan bersih desa. Pada tahun 2005 salah satu dalang wayang Timplong di Kabupaten Nganjuk mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo sebagai apresiasi seniman kesenian Tradisional.

“Pada saat ini kesenian wayang Timplong tidak hanya dipentaskan di daerah Nganjuk saja tapi di luar Nganjuk dalam acara pentas seni untuk lebih mengenalkan kesenian wayang Timplong,” papar Sumadi.

Kendati demikian, wayang Timplong di Nganjuk sudah mulai punah. Perlahan-lahan, keberadaannya begitu memprihatinkan. Perkembangannya tidak seperti pertunjukan wayang jenis lain, seperti wayang kulit, wayang golek, wayang krucil, dan lain-lain. Wayang Timplong hanya beberapa kali dipentaskan dalam setahun. Itu pun hanya dipentaskan pada saat hajatan bersih desa.

Sumadi berinisiatif, apabila ingin mempertahankan eksistensi wayang Timplong sebagai kesenian asli dari Nganjuk masih terbuka peluang. Atas campur tangan pemerintah daerah, pertunjukkan wayang Timplong dapat dibuat lebih bervariasi dengan menambah jenis gamelan yang semula hanya terdiri dari lima jenis. Selain itu, penampilan sang dalang, niyaga dan pesinden juga disesuaikan dengan kondisi jaman sekarang.

“Kalau ingin dipertahankan, masih banyak cara, jangan berpedoman pada pakem, sehingga menghambat kreatifitas untuk berkembang,” tukasnya.

Untuk diketahui, bukan hanya buah wayang saja yang ada di Museum Leiden, Belanda, melainkan bulu merak, yang biasa dipasang pada kanan kiri perkeliran juga masih utuh, serta wayang boneka, yang biasa dimainkan di sela-sela pertunjukkan wayang.

Reporter Andik Sukaca

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date