Tekan Harga Cabai, Bulog Gandeng TPID Kota Kediri

Kediri, koranmemo.com – Harga cabai pada tingkat pedagang pasar tradisional di Kota Kediri dinilai cukup tinggi, yaitu menyentuh angka Rp 51.000 sampai Rp 52.000 per kilogram. Untuk menekan harga supaya tidak terus meningkat, Perum Bulog Subdivre Kediri menggandeng Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri, menggelar Operasi Pasar Murni (OPM).

Waka Bulog Subdivre Kediri, Deny Kurniawan mengatakan, untuk menekan harga cabai memang diperlukan kerja sama berbagai pihak, tidak hanya pihak petani, pengepul, dan pedagang saja. Namun, pihak terkait seperti TPID juga sebagai salah satu pihak untuk menjaga kestabilan harga, dengan demikian diharapkan tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Pihak Bulog Subdivre Kediri, menggelar OPM dengan menyerap cabai dari petani yang kemudian dijual kembali ke masyarakat. “Sementara, kami serap cabai rawit langsung dari petani. Kalau harga, kami jual Rp 48.000 per kilogram, selisih Rp 7.000 dari harga di pedagang,” jelas Deny, Selasa (9/7).

Masyarakat yang membeli cabai, tidak harus membeli sebanyak 1 kilogram, membeli 1 ons juga diperbolehkan, pihaknya menilai kebutuhan tiap orang juga berbeda. Dengan menyerap langsung dari petani, diharapkan pihak petani juga tidak mengalami kerugian dan masih mendapat untung. Begitu pula masyarakat, dengan harga di bawah harga pasar, masyarakat tidak merasa terlalu mahal untuk membeli cabai.

Memang, untuk sementara ini pasokan dan hasil panen petani cabai menurun. Tidak hanya di Kota dan Kabupaten Kediri saja, tapi juga terjadi di beberapa daerah lainnya. Untuk memenuhi permintaan pasar, beberapa pengepul maupun pedagang, menerima pasokan dari luar daerah sehingga meningkatkan harga jual. Mengingat, ada biaya operasional tambahan, seperti biaya angkut dan biaya bongkar muat.

Hal senada juga diutarakan Nasrullah, Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI Kediri, saat harga cabai yang menurun pasca lebaran karena panen raya, membuat sebagian petani cabai beralih menanam jenis tanaman lain, salah satunya jagung. Akibatnya, hasil panen berkurang, sedangkan permintaan di pasar tetap.

Ini yang membuat harga cabai mulai naik dalam kurun waktu satu bulan terakhir. “Hasil evaluasi, ternyata kenaikan harga komoditas sayur juga menyumbang inflasi daerah. Jadi, dengan mengadakan OPM, pihak TPID dapat menekan harga sehingga tingkat inflasi daerah tidak meningkat,” tutur Nasrullah.

Dengan menjaga kestabilan harga pangan, lanjutnya, angka inflasi juga turut terjaga. Meskipun ada kenaikan harga, tidak sampai memberatkan konsumen (masyarakat). “Kalau untuk harga turun, kami berupaya untuk menjaga petani jangan sampai rugi. Kami bisa melakukan upaya penyerapan, jadi antara petani, pedagang, maupun masyarakat tidak ada yang dirugikan,” imbuh Nasrullah.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date