Targetkan Imunisasi Difteri 90 Persen Buat Pernyataan Bagi yang Menolak

Kediri, Koranmemo.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri mematok target realisasi 90 persen pelaksanaan imunisasi difteri di Kota Kediri. Pelaksanaannya dilakukan bertahap. Ini dilakukan untuk memutus rantai persebaran penyakit tersebut berdasarkan kejadian luar biasa (KLB) di 14 kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Yuni Ulifah, Kepala Seksi Survelen dan Imunisasi Dinkes Kota Kediri, mengatakan, imunisasi ini menyasar anak usia 1 hingga 19 tahun. Langkah ini untuk memutus persebaran penyakit yang terjadi di Jawa Timur, sehingga tidak merambah ke Kota Kediri.

“Kegiatan ORI (Outbreak Response Immunization), merespon KLB di sejumlah daerah di Jatim,” ujarnya, saat pelaksanaan imunisasi difteri di SMA Petra Kota Kediri, Senin (12/2).

Sasaran kegiatan ditentukan pada sebanyak 114 ribu anak, mulai usia 1 hingga 19 tahun. Namun berdasarkan proyeksi Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) sekitar 77 ribu anak. “Mulai dari PAUD, SD, SMP, dan SMA, baik negeri dan swasta. Selain juga imunisasi DPT ini juga dilakukan melalui posyandu,” imbuhnya.

Sebelumnya, Dinkes melakukan sosialisasi untuk mengantisipasi adanya penolakan dari wali murid. Sosialisasi ini memberikan pemahaman dan pengertian kepada peserta didik dan wali murid, tentang  penting imunisasi itu.

“Ada juga yang menolak. Tapi setelah kami lakukan sosialisasi, akhirnya menerima. Sementara untuk peserta didik yang sakit, dapat dilakukan susulan,” kata Yuni.

Kondisi ini dipengaruhi adanya temuan suspeck difteri di Kota Kediri. Tercatat ada satu penderita positif dari lima temuan di Kota Kediri pada 2017. Pada 2018, terdapat satu temuan dengan hasil negatif difteri. “Oleh sebab itu perlu dilakukan imunisasi untuk mencegah penyakit tersebut,” pungkasnya.

Terpisah, Fauzan Adima, Kepala Dinkes Kota Kediri, mengatakan, satu penderita difteri positif itu adalah santri asal Jawa Barat pada Desember 2017 .

“Usianya 17 tahun. Dia itu diindikasi terjangkit saat pulang kampung. Sebab yang terlapor difteri selama ini yakni Jakarta, Jabar, dan Lampung. Saat ini sudah merambah Jatim. Oleh sebab itu dilakukan ORI,” jelasnya.

Namun, tambah Fauzan, penderita kini sudah sehat dan kembali beraktivitas. Jika satu penderita terjangkit virus tersebut maka akan berdampak pada yang lain, mengingat penularannya begitu cepat.

“Dulu yang positif satu. Teman satu kamarnya atau yang terdekat juga diperiksa dan diberikan provilaksis. Selain itu lingkungan sekitar juga diimunisasi, karena sangat bahaya, mengingat penularannya begitu cepat,” jelasnya.

Idealnya, ujar dia, anak mempunyai kekebalan tubuh harus melewati beberapa tahap imunisasi. Diantaranya imunisasi daftar lengkap, meliputi, DPT, Polio, dan Hepatitis. Nantinya juga dimunisasi berulang sesuai ketentuan hingga kelas V SD. “Setelah itu baru bisa tercipta kekebalan tubuh. Namun kalau ORI dilakukan kalau ada KLB. Seperti saat ini,” kata Fauzan.

Fauzan mewajibkan membuat pernyataan bagi pihak yang enggan dimunisasi. Namun sejauh ini dia belum mendapatkan penolakan baik dari wali murid ataupun sekolah. “Kalau anak takut disuntik itu wajarlah.,” pungkasnya.

Reporter : Angga Prasetya

Editor : Gimo Hadi Wibowo

Follow Untuk Berita Up to Date

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.