Target Serapan Bulog Menurun

Kediri, koranmemo.com-Target serapan beras Perum Bulog Subdivre Kediri menurun drastis dibanding tahun sebelumnya. Tahun ini badan usaha milik negara (BUMN) itu hanya mematok target serapan sebanyak 24.000 ton beras. Jumlah itu relatif lebih kecil jika dibanding target serapan beras tahun lalu sebanyak 60.000 ton.

Achmad Kholisun, Kepala Perum Bulog Subdivre Kediri mengatakan, penurunan target jumlah serapan beras ini dinilai realistis. Kondisi ini menyesuaikan kebutuhan untuk pendistribusian beras di tiga wilayah kerjanya yaitu Kabupaten Kediri, Kabupaten Nganjuk dan Kota Kediri. “Memang jumlahnya lebih kecil jika dibandingkan target serapan beras tahun lalu (2017). Karena penyaluran volume beras juga menurun,” jelasnya, Rabu (17/1).

Menurunnya jumlah pendistribusian beras merupakan dampak dari regulasi baru penyaluran beras sejahtera (rastra) yang sebelumnya 15 kilogram per satu Leluarga Penerima Manfaat (KPM) berubah menjadi bantuan sosial beras sejahtera (bansos rastra) sebanyak 10 kilogram per KPM. “Tahun 2017 ada penyaluran rastra. Sementara tahun ini beralih ke bansos rastra yang jumlahnya lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya,” imbuhnya.

Perubahan kebijakan penyaluran rastra menjadi bansos rastra hanya bersifat sementara sebelum diterapkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) secara menyeluruh.

Berdasarkan keputusan Kementerian Sosial (Kemensos) penyaluran bansos rastra di wilayah Kabupaten Kediri sampai Juni dan penyaluran bansos rastra Kabupaten Nganjuk sampai Febuari mendatang. “Otomatis jumlah kebutuhan pendistribusian berkurang. Saya kira BPNT jumlahnya (beras) juga tidak jauh berbeda,” imbuhnya.

Volume pendistribusian yang kecil juga menjadi pertimbangan penurunan jumlah target serapan beras tahun 2018. Sebab, kisaran pertengahan Febuari hingga Maret mendatang diprediksi akan memasuki musim panen raya.

Secara otomatis, kata Kholisun, ketahanan pangan akan stabil karena kebutuhan beras di pasaran tercukupi. “Prediksi kami stok di Maret nanti separuh berasal dari serapan baru. Kami akan menyerap semaksimal mungkin. Itu (24.000 ton setara beras) target minimal,” kata Kholisun.

Dia menepis kabar menurunnya jumlah target serapan bulog karena kalah bersaing dengan tengkulak dan pengepul di pasaran. Menurutnya, melalui mitra kerja dan satuan kerja pengadaan yang ada dinilai mampu menyerap beras sesuai kebutuhan. Sosialisasi kepada petani dan mitra kerja bulog menjadi solusi untuk meningkatkan jumlah penyerapan beras. Langkah ini sering dia terapkan sehingga target serapan beras dapat tercapai.

Misalnya ketika dia menjabat di wilayah Pati Jawa Tengah dengan jumlah target serapan beras mencapi 145 persen pada tahun 2016 lalu. “Kebetulan saya masuk ke sini (Subdivre Kediri) per 1 November 2017 pada saat panen sudah tidak ada sehingga kami tidak bisa mengoptimalkan. Memang kemarin (2017) targetnya realisasi sekitar 80 persen. Namun tahun ini saya yakin bakal tercukupi,” tegasnya.

Selain melakukan serapan beras, nantinya Kholisun juga akan melakukan serapan gabah. Sebab ketahanan simpan gabah jauh lebih besar ketimbang penyimpanan beras. Prosentase penyerapan adalah 70 persen beras dan 30 persen gabah.

Untuk acuan penyerapan beras, menurut Kholisun belum ada perubahan sehingga tetap mengacu pada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2015 tentang harga pembelian pemerintah (HPP).
 “Perlakuannya sedikit berbeda. Untuk gabah sebelum didistribusikan diselip dulu. Berbeda dengan penyimpanan beras. Namun pasti ada perbedaan beras untuk konsumsi jangka panjang dan bukan, semisal standarnya untuk dapat diserap bulog,” pungkasnya.
Reporter: Angga Prasetya
Editor: Achmad Saichu

 

Follow Untuk Berita Up to Date

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.