Tak Terpengaruh Masuknya Cangkul Impor

Tulungagung, koranmemo.com –  Impor cangkul dari Cina yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia melalui PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), sejak Agustus 2016 lalu, tidak membuat khawatir para pengrajin cangkul dari Desa Bolorejo Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung. Hal itu dibuktikan masih banyaknya pesanan cangkul dari para pelanggan.

Hendri Sugiyanto, salah satu pengrajin cangkul mengatakan, dirinya yakin bahwa produksinya memiliki kulitas lebih bagus dari pada cangkul impor dari Cina. Dia berani memberikan garansi apabila cangkul hasil produksinya rusak sebelum berumur satu tahun. “Saya akan ganti jika cangkul rusak belum sampai satu tahun. Kami siap memperbaiki kembali,” ujarnya.

Hendri mengaku untuk cangkul buatannya lebih bermutu di banding cangkul impor, melihat dari segi kualitas bahan baku maupun ketajaman cangkul. Disamping itu cangkul buatan Hendri terbuat dari besi dan baja berkualitas, sehingga lebih kuat tajam serta awet. “Kalau cangkul impor diidikasikan bahan bakunya besi kurang bagus dan ketajamannya kurang,” katanya.

Didik Kuswoyo, pengrajin lainnya menuturkan para petani di daerahnya yang selama ini menjadi pelanggan, memilih cangkul lokal. Para petani tidak suka menggunakan cangkul impor sebab tidak sesuai dengan kondisi tanah di daerah setempat dan mudah patah.

Pasalnya, lanjut Didik, lahan pertanian dan perkebunan di wilayah Jawa dan Kabupaten Tulungagung pada khususnya memiliki struktur tanah agak padat sehingga untuk mengolahnya memerlukan cangkul yang tajam dan terbuat dari besi baja kualitas baik. “Struktur tanah di jawa padat, diperlukan cangkul yang terbuat dari besi baja,” katanya.

Selain itu, menurut Hendri dan Didik, cangkul buatan lokal yang sering digunakan para petani juga mempunyai bentuk yang berbeda sesuai dengan kondisi tanah di lahan pertanian atau perkebunan masing-masing. Keduanya memaparkan, pihaknya memproduksi dua jenis cangkul meliputi cangkul dengan ukuran 18 kali 28 centimeter dan cangkul ukuran 19 kali 29 centimeter. “Dua jenis cangkul tersebut dijual dengan harga Rp 300 ribu dan Rp 350 ribu setiap buahnya,” jelasnya.

Didik menambahkan, pandai besi di lokasinya mampu memproduksi cangkul sekitar 300 buah setiap bulannya. Hasil produksi dipasarkan di wilayah Tulungagung, kota – kota di Jawa Timur hingga luar jawa seperti Kalimantan, Sumatera, Ambon, dan Papua. (den/Jb)

 

Follow Untuk Berita Up to Date