Sulap Limbah Popok Jadi Kerajinan, Sehari Omsetnya Capai Rp 2 Juta

Share this :

Malang, koranmemo.com – Limbah popok yang dianggap orang tidak berguna dan sering menjadi limbah yang sangat mengganggu lingkungan ternyata dapat menjadi hal yang bermaanfaat. Seperti yang dilakukan oleh Yunita Lestari, warga Kelurahan Tunjungsekar, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang tersebut. Popok disulapnya menjadi berbagai macam kerajinan yang bermanfaat dan bernilai ekonomis.

Berawal dari saat dia melahirkan anak ketiganya pada tahun 2015 dan seringnya memakai popok hingga terkumpul menjadi banyak. Saat hendak membuang popok bekas yang dipakai anaknya tersebut di sungai kawasan rumahnya dia mempunyai pemikiran lain. “Saya yang saat itu sebagai kader lingkungan, kok saya merasa bersalah jika turut membuang limbah popok di sungai. Akhirnya tidak jadi, saya kumpulkan,” ujar Yuni, sapaan akrabnya, Selasa, (9/1).

Yuni lantas mendapat ide untuk memanfaatkan limbah popok tersebut menjadi hal berguna yakni kerajinan. Dia mendapat gagasan untuk membuat bank sampah khusus popok hingga terkumpul sekitar 10 ribu limbah popok. Namun pada saat itu, sistem pengelolaannya tidak berjalan baik dan akhirnya Yuni memutuskan untuk membeli dan mengelola sendiri popok-popok tersebut.

“Saya dibantu 10 orang tetangga sekitar untuk mengelola limbah popok tersebut. Mereka mempunyai tugas masing-masing,” ungkap Yuni yang juga sebagai seksi pengelolaan anorganik di Kader lingkungan Kecamatan Lowokwaru.

Dikatakan, membuat berbagai kerajinan dari bahan baku popok tidaklah mudah. Mulai cibiran dan ketidakyakinan dari orang-orang sekitarnya. Seperti saat mertuanya tidak mengizinkan dia dan kurang setuju untuk mengelola limbah popok karena dianggap tidak higienis. Tapi tekadnya malah semakin kuat untuk terus meneruskan ide kreatifnya tersebut.

Yuni membuat bahan baku dari limbah popok tersebut pada awalnya, popok yang terkena kotoran dibuang, lalu bagian yang masih layak dibersihkan dengan air detergen dan dengan air mengalir sampai jelinya bersih dan detergennya hilang. Setelah itu direndam menggunakan pemutih pakaian dengan perbandingan 5 liter air dengan satu tutup pemutih, jika perlu diberi pewangi pakaian. Tak hanya itu, bahan tersebut direbus dan dijemur hingga jelinya benar-benar bersih. Lalu jika sudah kering dan bahan tersebut agar halus disetrika menjadi lembaran kertas. “Kertas tersebut yang kita pakai untuk membuat bermacam-macam kerajinan seperti vas bunga, tas, dompet, hingga kursi dan bantal,” ungkap wanita kelahiran 8 Juni 1987 tersebut.

Untuk memasarkannya Yuni bekerja sama dengan Dinas UMKM Kota Malang dengan diikutkan pameran-pameran. Namun saat ini dia juga merambah ke jual beli secara online agar lebih laris lagi. Tidak hanya kerajinan hasil buatannya saja yang dikenal, Yuni juga sering dipanggil untuk menjadi narasumber untuk memberi pelatihan bagaimana menjadikan bahan limbah popok menjadi barang bermanfaat yang bisa bernilai ekonomis.

“Pernah suatu kali di salah satu acara saat saya menjadi narasumber. Warga sempat kagum dengan keunikan hasil karyanya tersebut. Saat dipegang dan diberi tahu bahwa itu dari limbah popok langsung kaget dan dilempar,” ungkapnya.

Yuni membuat berbagai ide kerajinannya tersebut secara otodidak. Untuk saat ini di hanya memasarkan di lingkup Kota Malang saja dan secara online. Sempat pada suatu pameran di acara APEKSI lalu, Yuni mendapat omset hingga Rp 2 juta per harinya. Dia juga menerima pesanan.

Reporter: Yudha Kriswanto

Editor: Achmad Saichu

Facebook Comments
Follow Us

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz