Sulap Limbah Menjadi Miniatur Motor Tematik Bernilai Ekonomis

Trenggalek, koranmemo.com – Limbah sering dipandang sebelah mata. Bahkan mayoritas orang menganggap limbah menjadi pemicu sebuah persoalan, karena dianggap tidak memiliki nilai ekonomis. Namun hal itu tidak berlaku bagi Agung Adi,warga Jalan Soekarno gang Rambutan nomor 9 Kelurahan Kelutan Kecamatan/Kabupaten Trenggalek. Di tangan Kang Kurmen, sapaan Agung Adi, limbah itu disulap menjadi sebuah benda bernilai ekonomis. Salah satunya adalah miniatur motor tematik yang sukses menembus pasar internasional.

Miniatur motor tematik sebetulnya bukan satu-satunya produk kerajinan Kang Kurmen. Dia juga memproduksi beragam produk lainnya seperti miniatur pinisi, hingga beragam ornamen lampu rumah. “Jadi produknya banyak. Bisa juga menyesuaikan pesanan dari konsumen. Misal diminta untuk membuatkan miniatur mobil dan beragam lampu hiasan rumah lainnya,” kata pria yang menggeluti bidang dekoratif interior itu.

Kang Kurmen mengatakan, mayoritas produk hasil kerajinan tangan terampilnya itu terbuat dari limbah, seperti limbah spare part korek bensol, spare part motor, hingga spare part mesin foto kopi. Selain mudah dijumpai, limbah-limbah itu sengaja dia pilih untuk digunakan sebagai bahan miniatur agar terkesan alami. Dia juga ingin mengubah stigma negatif tentang penilaian mayoritas banyak orang terhadap limbah. “Sebetulnya itu semua barang bisa digunakan, termasuk limbah-limbah lainnya. Karena semua ini berasal dari barang yang sudah tidak dipakai dan cenderung dibuang semuanya. Ibaratnya limbahmu, berkahku,” kata dia.

Kreativitas inilah yang membuat Kang Kurmen dikenal banyak orang. Beragam kerajinan unik dan nyentrik sudah dia produksi sejak kisaran tahun 2014 silam. Bahkan dia mengaku jika produknya pernah dibeli oleh Meteri BUMN saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Trenggalek kisaran 2015 silam saat meresmikan rumah kreasi sebuah bank milik pemerintah. “Selain Pak Ipin (wakil bupati Trenggalek, red), Ibu Menteri BUMN saat itu, Ibu Rini juga pernah membeli miniatur motor tematik seharga Rp 875 ribu,” jelasnya.

Dari beragam jenis kerajinan yang dia produksi dari beragam limbah, seni instalasi miniatur motor tematik inilah yang paling terkesan bagi Kang Kurmen. Alasannya, membuat miniatur motor tematik sama saja dia seperti hobi yang saat ini dia lakoni. Kang Kurmen mengaku memiliki hobi bermain motor moge atau sebutan motor gede. Melalui miniatur motor tematik inilah dia ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat melalui ragam miniatur karya terampilnya. “Misal tema Kembali kepada ALLAH, tema Tune Up, tema Hantu Pabrik Gula dan beberapa tema lainnya. Dari masing-masing tema itu terdapat filosofi yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat,” ujarnya.

Pemilik galeri Jowo Kunu Art itu mencontohkan, misalnya miniatur motor tematik dengan tema ‘Kembali Kepada Allah’. Dalam miniatur itu menggambarkan seorang pecinta moge yang tengah melakukan touring namun tidak melupakan kewajibannya menunaikan ibadah sesuai dengan keyakinan yang dianut. “Misalnya untuk Agama Islam dalam miniatur itu ada gambaran seorang moge yang sedang touring, kemudian tempat wudhu, sajadah dan lain sebagainya. Begitu juga dengan tema-tema yang lain. Intinya saya membuat itu spontanitas, apa yang ada dalam benak saya langsung saya implementasikan di kerajinan itu,” aku Kang Kurmen.

Semua hasil produksi yang dia buat, idenya mayoritas datang tiba-tiba. Dia mengaku menggeluti kerajinan dekoratif interior itu secara otodidak, sehingga lama dan tidaknya membuat sebuah produk tergantung dari mood saat proses pembuatan. “Jika moodnya lagi baik, paling untuk membuat sebuah produk membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima jam. Kalau pas nggak mood, bisa sampai berhari-hari. Kalau soal tingkat kerumitan, bagi saya antara produk satu dengan produk lainnya tak jauh berbeda,” ujarnya sembari tertawa.

Di balik kesuksesan yang dia raih saat ini, Kang Kurmen mengaku ingin berbagai ilmu sehingga kerajinan itu bakal terus dilestarikan. Kang Kurmen berencana ingin membuka kelas gratis bagi siapa saja yang ingin menggeluti bisnis tersebut. “Dibalik itu semua sebetulnya saya hanya ingin berbagai nikmat yang diberikan oleh ALLAH kepada saya. Sebetulnya saya sudah membuka kelas itu, namun untuk yang kelas umum belum terealisasi. Kalau dari kalangan pelajar justru banyak juga yang ingin belajar disini,” kata dia.

Kang Kurmen ingin melatih anak muda di Kabupaten Trenggalek agar lebih mandiri dan lebih terampil. Selain untuk membuat bangga Kabupaten Trenggalek, langkah kecil ini juga untuk mengentaskan kemiskinan di Kabupaten Trenggalek yang saat ini terbilang relatif tinggi. Karena untuk peminat miniatur itu tak hanya diminati kalangan domestik, melainkan sudah menembus hingga mancanegara. “Selain pembeli dari daerah sendiri, semisal beberapa kota di Kalimantan, ini juga sudah menembus hingga ke Perancis. Pemasarannya bisa melalui media sosial,” pungkasnya.

Reporter : Angga Prasetya

Editor : Della Cahaya

Follow Untuk Berita Up to Date