Sulap Limbah Kayu Jadi Mainan Edukatif

Kediri, koranmemo.com – Butuh kreativitas yang tinggi untuk memanfaatkan barang-barang bekas di sekitar rumah. Seperti yang dilakukan Farid Setiawan, warga Desa Toyoresmi Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri. Dia memanfaatkan limbah kayu pinus menjadi mainan edukatif yang bermanfaat untuk anak – anak usia dini. Ide kreatif itu muncul setelah dia sering mendapatkan pesanan pembuatan mainan anak dari lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang kebetulan ada di depan rumahnya.

Abi Toys. Itulah label yang diberikan Farid pada produk hasil karya kreatifnya. Usaha itu mulai ditekuni satu tahun terakhir. Pria yang pernah membuka bengkel ini tidak pernah menduga dia akan menggeluti pekerjaan yang dekat dengan dunia anak itu. Karena memang tidak pernah ada bakat khusus untuk mengerjakan mainan anak terlebih berbahan kayu. Semuanya bermula ketika guru PAUD di depan rumahnya kebingungan mendapatkan alat peraga edukasi. Farid mulai berselancar di dunia maya untuk mencari – cari informasi itu dan akhirnya menerima pesanan pertamanya.

“Seperti membuat meja, kursi untuk sekolah, terus minta dibuatkan balok mainan. Pertama memang minta tolong dibuatkan, terus saya cari – cari di internet ternyata harganya lumayan mahal. Lalu bahan – bahannya juga tersedia disini sepertinya bisa dibuat sendiri dengan harga yang agak miring dan ada peluang bisnis disitu. Inilah yang membuat saya mulai menekuni usaha ini,” katanya.

Halaman belakang rumah miliknya dijadikan bengkel produksi mainan edukatif. Berselancar di internet dilakukan untuk terus mencari informasi agar produksinya bisa diminati oleh masyarakat khususnya anak – anak. Tidak sampai disitu, Farid juga memperbaiki kualitas terutama pada sisi standar keamanan bagi anak – anak yang akan menggunakan produk miliknya itu. Hasilnya,  dia menemukan bahan yang cukup aman yakni kayu pinus mudah didapati di Kediri.

“Saya memilih pinus karena bahan dasar ini mudah ditemukan di Kabupaten Kediri. Jumlahnya berlimpah dan banyak stoknya dimana-mana. Karena ini kan bahan limbah, limbah kayu pinus, jadi tidak takut kekurangan pasokan. Terus agar lebih aman bagi anak – anak sebelum dibuat kayu, saya oven dulu agar tidak mengeluarkan getah,” katanya.

Pemilihan cat juga harus tepat demi kenyamanan dan keamanan anak – anak sebagai pengguna produknya. Bukan menggunakan cat minyak yang memang lebih awet, namun menggunakan cat air dan pernis yang dicampur dengan air.

Farid kemudian menceritakan proses pembuatan mainan edukatif miliknya itu. Dimulai dengan memotong balok bekas kemudian dibuat garis pola. Selanjutnya, balok dipotong, dihaluskan, dan dicat. “Untuk jenis mainan kita ada beberapa bentuk, mulai dari balok bangunan, balok transportasi, dan puzzle. Harganya paling rendah Rp 50 ribu sampai Rp 300 ribu, tergantung pertama kerumitannya sama besar kecilnya mainan itu. Dan juga jumlah banyaknya kayu yang digunakan untuk satu mainan edukatif,” jelasnya.

Selain terus memproduksi untuk dijual di pasaran, Farid juga memasarkan produknya melalui media sosial dan toko online. Alhasil, pesanan datang hampir dari seluruh PAUD dan TK di Kediri. Tidak jarang pesanan datang dari luar kota, seperti Tulungagung, Surabaya, bahkan Jakarta dan Tangerang. Untuk luar provinsi itu memang Farid memanfaatkan jaringan keluarga yang ada disana. “Produk dari sini memang lebih murah, terus kualitasnya juga lumayan,” katanya.

Sedangkan untuk luar kota, Farid memanfaatkan jasa pengiriman barang baik melalui kereta api yang lebih murah maupun jasa pengiriman barang yang dikelola oleh swasta.  “Saya tergantung permintaan, kalau pengen murah lewat kereta api tapi agak lama, seperti kemarin kirim ke Jakarta itu sampai satu mingguan. Tapi kalau lebih cepat pakai pengiriman jasa mandiri,” katanya.

Reporter: Zayyin Multazam

Editor: Vrian Triwidodo

Follow Untuk Berita Up to Date