Soroti Perilaku Kenakalan Siswa, Dewan Gelar RDP

Share this :

Kediri, koranmemo.com – Tindak kekerasan yang kerap kali melibatkan kalangan pelajar kian mengkhawatirkan. Kondisi itu memancing reaksi Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Kota Kediri, dengan menggelar rapat dengar pendapat (RDP), Kamis (1/2) pagi.
Reza Darmawan, Ketua Komisi C DPRD Kota Kediri mengatakan, rapat bersama ini dilakukan untuk membahas persoalan kenalakan siswa yang saat ini tengah menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Melalui kajian ini, akan diketahui setiap permasalahan dan kondisi di sekolah. “Kami mengkaji apa yang menjadi permasalahan di sekolah untuk mencari solusinya,” ujarnya, dalam sambutannya.
Wakil rakyat yang membidangi dunia pendidikan ini menyebut, jika fenomena kenakalan siswa bukan hanya terjadi di Kota Kediri saja.

enakalan siswa sebetulnya tak hanya terjadi di Kota Kediri.
“Ini bukan masalah dimana tempatnya, namun mencari solusinya agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya, menjawab masukan yang disampaikan, Sumedi Kepala DP3AP2KB Kota Kediri.
Siswanto Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri mengatakan, permasalahan di sekolah memang kompleks. Menurutnya semua itu dapat ditanggulangi jika tenaga pendidik mematuhi sesuai prosedur dan aturan yang telah ditentukan. Namun disisi lain, meskipun tenaga pendidik sudah mematuhi aturan yang telah ditentukan, psikologis siswa sedikit banyak saat ini juga terpengaruh akibat adanya anak jalanan dan anak punk yang cenderung berkonotasi negatif. “Hampir tiap bulan semua kepsek kami kumpulkan. Ini untuk menanggulangi kenakalan siswa. Namun semua itu tidak akan berjalan maksimal tanpa adanya peran semua pihak,” ujarnya.

Pemalakan disebut sebagai “budaya”
Sumedi Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Kediri mengatakan, adanya peserta didik yang meminta uang kepada sesama siswa saat ini dapat dikatakan sebagai budaya. Kondisi ini dipengaruhi oleh tontonan atau dampak dari akibat yang dilihat peserta didik memasuki masa pertumbuhan. “Bisa juga ini dampak peserta didik yang terpengaruh kondisi di luar sekolah. Misal keberadaan anak jalanan, dan lain-lain,” jelasnya.

Akibat terkontaminasinya peserta didik, secara tidak langsung akan membentuk kelompok dan geng-geng kecil di sekolah. Hal ini jika tidak segera ditanggulangi akan berdampak besar. “Semisal juga, siswa itu melihat apa yang pernah dilakukan kakak kelasnya ataupun menjadi korban. Sehingga korban atapun yang melihatnya berpotensi meniru. Jadi seperti sudah menjadi budaya,” imbuhnya.

Senada diungkapkan Ali Muklis, Plt KA Satpol PP Kota Kediri yang menyebut, keberadaan anjal atau anak punk memang cenderung berkonotasi negatif. Tak hanya melibatkan anak putus sekolah, bahkan genk-genk kecil itu juga diindikasi terdapat di lingkungan sekolah. “Ini diketahui dari pendataan hasil razia. Banyak juga yang ditemukan masih sekolah, ikut anak punk,” ujarnya.

Bahkan, Ali menyebut, kondisi ini kian mengkhawatirkan lantaran yang terjaring razia mayoritas mengaku sudah pernah melakukan hubungan layaknya suami istri meskipun masih berstatus pelajar. “Masih kelas VI SD saja sudah ada yang menjadi, mohon maaf mucikari,” ujarnya sembari berurai air mata.

Hingga saat ini sekitar pukul 11.28 WIB, RDP yang diikuti seluruh kepala sekolah (Kepsek) baik tingkat SD dan SMP masih terus berlangsung. Selain dihadiri anggota Komisi C DPRD Kota Kediri, agenda ini juga dihadiri dari instansi terkait dan sejumlah satgas yang menaungi tentang anak.

Wartawan : Angga Prasetya

Editor : Irwan Maftuhin

Facebook Comments
Follow Us

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz