Sindikat Pengepakan Rokok Pita Cukai Palsu Dibongkar

Sidoarjo, koranmemo.com – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Sidoarjo membongkar sindikat pengepakan rokok dengan menggunakan pita cukai palsu disalah satu home industri di Desa Kedungbanteng kecamatan Tanggulangin Sidoarjo.

Kasat Reskrim Polresta Sidoarjo, Kompol Muhammad Harris mengatakan pengungkapan kasus pengepakan rokok dengan menggunakan pita cukai palsu berawal dari informasi masyarakat. Selanjutnya, polisi melakukan penyelidikan.

“Setelah kami telusuri ternyata benar di salah satu rumah warga milik (Suyati) dijadikan tempat untuk melakukan pengepakan rokok dengan menggunakan pita cukai palsu,” kata Muhammad Harris, Senin, (28/08/2017).

Dari penyelidikan tersebut, polisi berhasil mengamankan Mulyono (41) asal Desa Kalidawir, Tanggulangin, Sidoarjo yang saat itu menjadi pekerja pengepakan rokok.

“Mulyono merupakan salah satu dari 5-6 pekerja yang diamankan petugas. Sedangkan bahan baku secara keseluruhan sudah disiapkan oleh pemilik usaha yakni ED asal Jawa Tengah. Kini, ED masih dalam pengejaran polisi, karena pada saat penangkapan sedang tidak ada di lokasi,” tegasnya.

Proses pemasangan pita cukai palsu dan pengepakan ini diceritakan Muh. Harris, berawal dari bahan baku berupa batang rokok lalu dimasukkan kedalam Genteng. Selanjutnya diberi lidah rokok supaya tertata rapi kemudian dimasukkan etiket rokok (bungkus). Dan ditempeli menggunakan pita cukai palsu.

“Setelah jadi, lalu dimasukkan ke Opp plastik dan dipress menggunakan element untuk dipanasi agar Opp tersebut lengket dengan bungkus rokok,” jelasnya.

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan petugas, diantaranya, tiga buah kardus berisi batangan rokok merk Bosini, 8 mesin element, karton rokok merk planet mars, 7 ball rokok merk Bosini, 100 press rokok merk SIP, lidah rokok, Kardi etiket, 4 bendel pita rokok ALAT kemasan 12 batang, 11 press rokok merk Brandjati, dan 1 ball merk Brandjati.

“Satu pack rokok dijual seharga Rp. 7 ribu, dikalikan 2.400 bungkus dan dikalikan selama 7 hari. Totalnya mencapai Rp. 117.600.000 per Minggu. Kasus ini masih kami kembangkan dan selanjutnya akan kami limpahkan ke Kanwil Bea dan Cukai,” pungkasnya.

Reporter: Yudhi Ardian

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.