Sidang Kasus Suap Mutasi dan Promosi Jabatan di lingkungan Pemkab Nganjuk

Sidoarjo, koranmemo.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hari ini kembali menggelar sidang di Pengadilan Tipidkor Surabaya jalan Raya Juanda, Sidoarjo terkait dugaan suap mutasi dan promosi jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nganjuk. Dengan agenda mantan Bupati Nganjuk, Taufiqurrahman sebagai saksi, Senin, (29/1/2018).

Sidang yang digelar di ruang sidang Cakra, mengagendakan keterangam saksi dari mantan Bupati Nganjuk dua periode,Taufiqurrahman. Dari beberapa pertanyaan JPU, Taufiq sapaan akrab Taufiqurrahman menyangkal sebagian besar pertanyaan yang diajukan JPU.

Ada beberapa keterangan yang diberikan Taufiqurrahman dinilai Kepala Bagian Umum RSUD Nganjuk, Mokhammad Bisri juga tidak benar.

Hal itu terbukti saat Bisri dikonfrontasi Majelis Hakim terkait beberapa jawaban yang telah diucapkan Taufiq atas pernyataan yang diberikan JPU l.

Dari keterangan saksi Taufiqurrahman, Bisri menyebutkan adanya beberapa pernyataan yang tidak benar.

“Dari keterangan yang diucapkan Bapak Taufiqurrahman terkait atas kedatangan orang suruhannya adalah meminjam uang. Namun, bukan seperti itu yang mulia, waktu itu beliau (Taufiqurrahman) menyuruh orang untuk mengambil pesanan Bapak. Uang yang saya berikan saat itu Rp 200 juta. Bukan, Rp 100 juta seperti yang diucapkan dalam keterangannya,” tambah Bisri.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nganjuk, Harjanto yang juga menjadi salah satu tersangka dalam perkara ini, membantah atas beberapa keterangan yang diberikan mantan Bupati Nganjuk tersebut.

Pihaknya menyebutkan adanya permintaan uang dari Bupati Taufiqurrahman. “Awakmu gimana, kabeh niku gak enek sing gratis. Wis ngunu ae, aku golekno duek limang atus juta, ” terangnya kepada  ketua Majelis Hakim, I Wayan Sosisawan, S.H., MH.

Selain itu, Harjanto menyebutkan memang ada pemanggilan dirinya ke rumah dinas oleh ajudan. “Ditimbali Bapak, mau ada penataan pegawai di pemkab Nganjuk, sehingga klo mau promosi atau mutasi ada biaya syukuran, ” pungkas Harjanto.

Diketahui, Taufiqurrahman, Bupati Nganjuk dua periode merupakan satu dari lima tersangka atas kasus dugaan suap mutasi dan promosi jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nganjuk.

KPK menangkap Taufiq usai menerima uang di salah satu hotel di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Rabu (25/10/2017) silam.

KPK menduga uang Rp 298 juta yang diserahkan melalui Bisri dan Harjanto, berasal dari banyak pihak.

Reporter: Yudhi Ardian

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.