Siapkan 1.100 Personel Keamanan

Jelang Peringatan 7 Hari Meninggalnya Anggota PSHT

Polres Kota Mojokerto memperketat pengamanan menjelang acara tahlil untuk memperingati tujuh hari meninggalnya anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Dawarblandong. Pasalnya, acara tersebut dikhawatirkan akan mengundang massa dalam jumlah besar yang berpotensi memicu bentrokan dengan warga.

 

Untuk itu sedikitnya 1.100 personel kemanan disiapkan untuk menjaga wilayah perbatasan dan beberapa lokasi rawan. “Khusus Polres Kota Mojokerto kami tetapkan siaga satu. Ini sebagai persiapan tujuh harinya korban meninggal dari anggota PSHT Mojokerto,” kata Kapolres Kota Mojokerto, AKBP Nyoman Budiarja kepada wartawan, Jumat (21/10).

Penetapan status siaga satu, lanjut Nyoman, bukan tanpa alasan. Menurut dia, pada peringatan hari ketujuh meninggalnya Dwi Cahyono (19), anggota PSHT asal Dusun Magersari Desa Temuireng, Kecamatan Dawarblandong, Sabtu (22/10), berpotensi dijadikan momentum bagi anggota PSHT dari daerah lain untuk berdatangan ke rumah duka. Oleh sebab itu, pihaknya melakukan antisipasi sejak dini. “Jangan sampai acara ini menjadi sebuah momen berkumpul massa dalam jumlah besar yang berubah menjadi situasi kontijensi, sedangkan pasca perusakan kemarin (di Dawarblandong) pasti ada imbasnya bagi masyarakat, situasi belum kondusif,” terangnya.

Nyoman menjelaskan, saat ini pihaknya telah menyiagakan 800 lebih personel yang terdiri dari 4 kompi Polres Kota Mojokerto, 1 kompi plus bantuan Polres Kabupaten Mojokerto, 2 kompi Brimob Madiun dan Kediri, serta 1 satuan setingkat pleton (SST) dari Kodim 0815 Mojokerto. Selain itu, 3 kompi tambahan dari Polres Bojonegoro, Gresik, dan Lamongan juga siaga di markas masing-masing. “Sejak kemarin pasukan Brimob sudah kami siagakan untuk menjaga wilayah perbatasan di Mantup (perbatasan Lamongan). Juga kami siagakan di Polsek Dawarblandong, Polsek Jetis, dan Cinandang (Dawarblandong) masing-masing satu pleton. Yang satu kompi kami siagakan di mako Polresta Mojokerto. Personel lainnya kami kerahkan pada hari H,” jelasnya.

Lokasi rawan yang menjadi perhatian petugas diantaranya kawasan simpang empat Kupang Kecamatan Jetis tempat insiden pengeroyokan anggota PSHT oleh sekelompok orang, Minggu (16/10) dini hari, Desa Pulorejo tempat massa PSHT melakukan pengrusakan rumah warga dan kendaraan polisi, Senin (17/10), serta rumah duka Dwi Cahyono yang menjadi lokasi tahlilan. “Pada hari H nanti kami juga menaruh personil saya di perbatasan, spot-spot yang punya kerawanan, kami melakukan penyekatan (massa PSHT) yang dari luar daerah agar tidak masuk ke Mojokerto,” ujarnya.

Nyoman menegaskan, pihaknya tidak bermaksud melarang anggota PSHT dari luar daerah bertakziah ke rumah duka. Hanya saja, jika massa PSHT datang dalam jumlah besar dikhawatirkan akan kembali berbenturan dengan warga. “Warga PSHT di luar Mojokerto agar jangan masuk ke Mojokerto, saya mengimbau agar bisa menahan diri. Takziah biar dihadiri massa PSHT Mojokerto saja, demi keamanan mereka sendiri mengingat pasca pengrusakan kemarin belum tentu klir bener. Jangan sampai niatnya takziah tempur lagi,” tegasnya.

Masih menurut Nyoman, keamanan Mojokerto menjadi tanggung jawab bersama semua elemen. Untuk itu, dia meminta kepada para pengurus cabang PSHT daerah lain agar mengendalikan anggota maupun simpatisan supaya tak datang ke acara tahlil di rumah duka. “Di lain sisi melalui Bhabinkamtibmas kami terus memantau situasi di Desa Kupang dan Pulorejo. Ketua RT dan RW masing-masing sepakat untuk bersama-sama menggalang masyarakat untuk menahan diri,” tuturnya.

Seperti diketahui, Dwi Cahyono tewas di kawasan simpang empat Kupang, Kecamatan Jetis, Minggu (16/10) dini hari. Polisi menyatakan anggota ranting PSHT Dawarblandong itu tewas akibat kecelakaan tunggal menabrak tiang telepon dalam perjalanan pulang dari acara wisuda warga baru di Desa Wiyu Kecamatan Pacet. (ag)

 

Follow Untuk Berita Up to Date