Serangan Hama, Hasil Panen Padi Turun 40 Persen

Tulungagung, koranmemo.com – Sebagian petani di Kabupaten Tulungagung mengeluhkan hasil panen padi di musim kemarau tahun ini mengalami penurunan hingga 40 persen. Hal ini dampak dari serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) atau hama.

Marmiati salah satu petani di Kecamatan Boyolangu mengatakan hama wereng coklat sudah menyerang tanaman padi miliknya di usia 60 hari masa tanam. Upaya yang dilakukannya yakni dengan menyemprotkan pestisida dengan rutin, namun hal itu hanya mampu meminimalisir serangan.Tidak hanya serangan hama wereng coklat, serangan hama burung juga terjadi pada saat bulir padi mulai muncul. “Saya susah, setelah diserang wereng, hama burung juga ikut menyerang,” keluh wanita yang berusia 43 tahun itu.

Hal senada diungkapkan oleh Jamat, petani lainnya yang mengungkapkan dia sedikit lega karena serangan hama wereng tidak menyerang tanaman padi miliknya. Namun, hama tikus yang menyerang. Hal itu terlihat banyaknya potongan padi yang berserakan.

Selain itu juga, hama burung pipit yang menyerang padi miliknya yang sudah berusia 75 hari itu cukup banyak.“Padahal sudah dipasang jaring, dan saya pun menunggu setiap hari. Tapi serangan burung secara sporadis terus terjadi,” katanya.

Dengan banyaknya serangan hama burung, tikus maupun wereng coklat. Marmiati dan Jamat lebih memilih melakukan panen dini kendati usia padi belum cukup umur. Hal itu guna meminimalisir kerugian lebih banyak lagi akibat serangan hama. “Saya panen saja mas, meskipun masih banyak padi yang belum menguning,” ujar Jamat.

Disinggung dengan hasil panen yang diperoleh, Marmiati menuturkan hasil panen yang didapatnya dipastikan turun. Estimasi penurunan hingga 40 persen jika dibandingkan dengan tidak adanya serangan hama (normal). “Kalau normal satu hektare itu bisa panen 9 ton. Namun adanya serangan hama kini hasil panen sekitar 5,4 ton gabah,” tuturnya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Koordinator pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Gatot Rahayu membenarkan adanya serangan hama terhadap tanaman padi di wilayah kerjanya. Dia mengklaim jika pencegahan serangan hama juga sudah dilakukannya bersama dengan Babinsa maupun penyuluh pertanian setempat. Dengan cara sosialisasi maupun penyemprotan secara langsung disekitar lahan yang terserang hama. “Kami sudah melakukan upaya menekan atau mengendalikan populasi wereng coklat tersebut, dan hasilnya cukup bagus,” ujarnya.

Disinggung adanya panen dini yang dilakukan oleh para petani, Gatot mengakui jika pihaknya merekomendasikan kepada petani, untuk tanaman padi yang sudah menguning atau bulir padi sudah terisi bisa dilakukannya panen lebih awal guna meminimalisir kerugian. “Namun dengan catatan kwalitas gabah sudah berisi penuh,” jelasnya.

Gatot menambahkan, serangan hama tikus maupun burung ini memang sulit dalam penanganannya. Melihat mobilitas burung sangat banyak sekali, disamping itu musuh alami burung pipit seperti burung gagak, elang kini sudah punah. Hal yang sama musuh tikus yakni ular, itupun kini juga sulit ditemukan di area sawah. Sehingga tikus dengan mudah menyerang tanaman padi.

“Dan faktor utama sebenarnya pola tanam yang tidak serempak, membuat serangan hama hanya terpusat pada satu titik. Namun, petani juga sulit ketika diajak untuk menanam secara serempak,” pungkasnya.

Reporter : Deny Trisdianto

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date