Sekolah Pinggiran Minim Perhatian

Share this :

Tulungagung, koranmemo.com – SDN 4 Kedoyo yang bertempat di Dusun Ampalgading Desa Kedoyo Kecamatan Sendang, terpaksa belajar dengan berbagi ruangan kelas dengan cara disekat menggunakan papan triplek.

Dimana, sekolah tersebut saat ini hanya terdapat tiga ruang kelas yang digunakan oleh enam kelas dengan jumlah 44 siswa.

Hal ini dilakukan karena ada satu ruang kelas yang rusak pada bagian atap, sehingga oleh pihak sekolah dengan dibantu oleh sejumlah warga sekitar menurunkan atap genting. Melihat, atap genting kelas nyaris runtuh, dan sangat berbahaya bagi siswa kelas 1 dan 2 yang menempati ruangan tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun koranmemo.com. Sebelumnya sekolah tersebut mempunyai empat kelas lokal. Dimana untuk kelas satu dan dua menggunakan satu ruang dengan disekat almari, kemudian untuk kelas tiga disekat dengan ruang perpustakaan, selanjutnya untuk kelas empat dan lima juga menggunakan satu ruang dengan disekat menggunakan papan triplek dan untuk kelas enam menggunakan satu ruang kelas, karena harus fokus belajar guna menghadapi ujian nasional.

“Dulu itu kita memiliki empat ruang kelas lokal. Dan yang disekat dulu kelas 1 dan kelas 2, kelas 3 dengan perpustakaan, kelas 4 dan kelas 5, kemudian kelas 6 menggunakan satu ruang kelas sendiri,” ungkap Partiani guru kelas satu SDN 4 Kedoyo.

Lebih lanjut, Partiani menuturkan kondisi ini semakin memprihatinkan ketika ruang kelas satu mulai mengalami kerusakan pada Oktober 2017, dengan diawali jatuhnya plafon ruang kelas. Ketika melihat ke atas melalui lubang plafon, kayu penyangga utama atap terlihat sudah lapuk. Namun, pihak sekolah saat itu hanya mampu memberikan penyangga bambu.

“Jadi pertama kali paflon jatuh, kami melihat kayu sudah lapuk. Kemudian hanya dikasih penyangga dua bambu untuk sementara,” katanya.

Kemudian pada Januari 2017, peristiwa kembali terjadi pada bandar yang menempel pada dinding ruang kelas terjatuh. Melihat akan hal itu, maka pihak sekolah memutuskan untuk tidak menggunakan ruang kelas tersebut. Sehingga, dengan terpaksa menggunakan tiga ruang kelas untuk enam kelas dengan cara disekat.

“Jadi saat ini kami menggunakan tiga ruang kelas. Untuk kelas 6 dan 5 menggunakan satu ruang dengan disekat papan triplek, hal itu juga diberlakukan terhadap kelas 4 dan 3, kemudian kelas 1 dan 2,” tuturnya.

Sementara itu, Bahtiar guru kelas 5, juga menuturkan dirinya tidak menutup kemungkinan kegaduhan dalam pelaksanaan  proses belajar mengajar sering kali terjadi. “Ya itu wajar karena ketika yang satu diam, siswa yang sampingnya mulai gaduh, dan suara ketika mengajar pasti terdengar oleh siswa yang berada dibalik sekatan papan triplek,” jelasnya.

Ketika disinggung terkait umur bangunan, sejumlah guru tidak mengetahui secara pasti. Dengan alasan para guru masih beberapa bulan mengajar di sekolah tersebut. Melihat ruang kelas tersebut, seperti bangunan lama.

Hal itu terlihat dari lantai ruangan yang masih menggunakan lantai yang terbuat dari semen bercampur pasir, dalam artian bukan porselen.

Partiani dan Bahtiar menambahkan, kondisi ini sudah disampaikan oleh kepala sekolah kepada pihak unit pelaksana teknis (UPT) Kecamatan Sendang.

“Kami berharap perbaikan ruang kelas untuk segera dilaksanakan, tidak menutup kemungkinan kayu yang melintang di tiga ruang kelas saat ini kondisinya juga lapuk. Yang rawan roboh,” jelasnya.

Perlu diketahui, SDN 4 Kedoyo memiliki 44 siswa dengan perincian untuk kelas satu memiliki 7 siswa, kelas dua memiliki 5 siswa, kelas tiga memiliki 9 siswa, kelas empat memiliki 6 siswa, kelas lima memiliki 8 siswa, dan kelas enam memiliki 9 siswa. Sedangkan untuk jumlah guru pengajar yang berstatus PNS berjumlah enam, sedangkan untuk guru tidak tetap (GTT) sebanyak empat.

Reporter: Denny Trisdianto

Editor: Achmad Saichu

Facebook Comments
Follow Us

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz