Sebelum Ditemukan Tewas, Nenek Pasar Setono Betek Ini Sempat Jual Kalung Emas

Kediri, koranmemo.com – Kematian JM alias Mbah Mentil (63) tinggal di salah satu lapak Pasar Setono Betek Kota Kediri, yang jasadnya ditemukan dengan kondisi mulut tersumpal kain dan tangan serta kaki terikat tali kain masih belum terungkap. Teka teki kematian korban ini oleh warga malah seorang laki – laki yang sering mendatangi tempat tinggal korban.

Pihak kepolisian pun masih melakukan proses lidik terhadap kasus ini, bahkan jasad korban masih berada di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Kota Kediri. Pasalnya, pihak kepolisian yang melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian yang berada di Desa Kembangan Kecamatan Sukomoro Kabupaten Magetan, belum menemukan sanak keluarga korban.

Ternyata, korban sudah lama meninggalkan kampung halaman yang beralamat sesuai dengan kartu tanda penduduk (KTP) yang ditemukan petugas. “Sejak kemarin sudah melakukan koordinasi, ternyata korban sudah lama tidak tinggal di sana dan tidak memperbarui administrasi kependudukan miliknya. Sampai sekarang, jasad korban masih berada di RS Bhayangkara,” tutur Kasat Reskrim Polres Kediri Kota, AKP Andy Purnomo, saat dikonfirmasi Koranmemo.com.

Sementara itu, dari informasi yang diperoleh Koranmemo.com, korban sudah lama menjalin hubungan dengan seorang laki – laki yang sering mengunjungi korban, dan sesekali bepergian dengan korban. Tidak jarang, korban memesan makanan dan kopi untuk laki – laki tersebut, di salah satu warung yang berada di sekitar tempat tinggal korban.

Sebelum korban ditemukan meninggal di dalam lapak berukuran 2 meter kali 4 meter dalam kondisi yang tidak wajar, laki – laki tersebut diketahui warga datang menemui korban. Dari keterangan warga sekitar, hampir lima tahun ini mereka sering bertemu. Bahkan, saat korban pindah tempat tinggal pun, laki – laki itu masih mengetahui dan terus berhubungan sampai akhirnya korban ditemukan meninggal.

Menurut warga, perawakan laki – laki itu tinggi besar dan sering menggunakan sepeda motor warna hitam. Dia sering berkunjung saat lapak yang ada di sekitar tempat tinggal korban sudah sepi, dan terakhir datang ke tempat tinggal korban pada hari Minggu (27/1) sekitar pukul 18.00 WIB. “Di sini, lapak mulai tutup pukul 16.30 WIB. Korban sempat memesan kopi kira – kira pukul 18.00 WIB, dan mengembalikan gelas sekitar pukul 19.00 WIB,” jelas salah satu warga.

Setelah mengembalikan gelas, warga tidak mengetahui apakah laki – laki itu sudah pulang atau masih di dalam bersama korban. Namun, warga yang melakukan aktifitas pada keesokan harinya, Senin (28/1), tidak menaruh curiga melihat lampu di tempat tinggal korban masih menyala. Mereka mengira korban masih tertidur, ternyata setelah diperiksa sore hari korban sudah meninggal.

Laki – laki yang serig mendatangi korban, dari keterangan warga berumur antara 30 tahun sampai 40 tahun. Saat berkunjung, laki – laki itu jarang berkomunikasi dengan warga sehingga warga hanya mengetahui sekilas wajahnya. Dia tidak pernah melalui jalan dari arah barat saat datang ke tempat tinggal koban, tetapi sering datang dari arah timur. “Kalau dari arah timur, kan jarang orang yang tinggal di lapak. Mungkin hanya penjual sayur saja, mereka juga tidak mungkin memperhatikan karena menganggap hanya orang yang akan berbelanja,” kata warga.

Semasa hidupnya, korban sempat bercerita akan menjual perhiasan berupa kalung emas, karena ingin membeli yang baru. Selain kalung, korban mempunyai persiasan seperti cincin dan gelang, yang disimpan dalam dompet beserta uang yang dikumpulkan dari hasil menjual barang bekas (rongsok). “Sempat bercerita, kalung miliknya dijual dengan harga Rp 1.700.000 dan akan dibelikan yang baru. Saat membayar makanan atau minuman, dari dalam dompet ada surat perhiasan, cincin, gelang, dan uang yang cukup banyak,” ujar warga.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu

Editor : Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date