Sebar Hoax via Akun Abal-abal, Pedagang Ikan Koi Diciduk

Trenggalek, koranmemo.com -Sebar hoax lewat akun abal-abal, seorang pedagang ikan koi di Kabupaten Trenggalek dibekuk petugas kepolisian. Dia diamankan setelah postingannya dalam media sosial (medsos) Facebook dinilai melecehkan dan menyudutkan seorang pengasuh pondok pesantren (ponpes) ternama di Kota Keripik Tempe, sebutan untuk Kabupaten Trenggalek.

Akun Facebook abal-abal bernama Ridwan S dikendalikan oleh Sutrisno (40) warga RT 07/RW 03 Desa Sukorame Kecamatan Gandusari. Pedagang ikan koi itu dibekuk petugas pada Kamis (21/3) sekitar pukul 09.00 WIB. “Peristiwa itu diketahui pada Minggu (17/3) lalu,” ujar Kapolres Trenggalek, AKBP Didit Bambang Wibowo S dalam konferensi pers di Mapolres Trenggalek, Selasa (26/3).

Postingan ujaran kebencian yang dilakukan Sutrisno mencuat setelah Musyaroh (50) warga Desa Sukorejo Kecamatan Gandusari membagikan sebuah laman berita online di medsos Facebook miliknya, Jumat (15/3) sekitar pukul 03.10 WIB . Laman media online yang diunggah pengasuh ponpes itu berisi berita tentang seorang oknum calon legislatif di luar daerah yang diduga melakukan tindakan asusila. “Pelaku kurang berkenan dan mengomentari dengan kata-kata kotor bernada ujaran kebencian,” jelasnya.

Komentar Sutrisno, lanjut Kapolres Trenggalek, memantik reaksi banyak pihak. Tak terima, pengasuh ponpes tersebut memilih menempuh jalur hukum dan melaporkan kejadian itu ke Mapolres Trenggalek. Setelah melakukan serangkaian penyelidikan, pelaku diamankan beserta sejumlah barang bukti. “Diantaranya screenshot postingan dan sebuah handphone yang diduga digunakan untuk memposting,” kata Kapolres.

Dihadapan petugas, pria yang keseharian berjualan ikan koi itu mengaku hanya ingin mengingatkan saja, saat ditanya wartawan tentang motifnya mengomentari postingan pengasuh ponpes tersebut. Pasalnya postingan pelaku bermuatan ujaran kebencian, karena mengandung unsur melecehkan, memfitnah, dan menyebarkan nama korban tanpa dasar. Sutrisno juga membantah sebagai partisipan salah satu partai politik (parpol) peserta pemilu.

“Hanya mengingatkan saja. Bukan (simpatisan Parpol,red),” kata Sutrisno seraya meninggalkan lokasi konferensi pers, ketika digelandang petugas menuju ruang tahanan. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku dikenakan pasal 45A ayat (2) UURI No. 19 tahun 2016 tentang informasi dan transaksi elektronik perubahan UU RI nomor 11 tahun 2008 dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara.

Reporter Angga Prasetya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date