Santri Ponpes Baitul Atieq yang Ahli Mengolah Buah Salak

Nganjuk, koranmemo.com –┬áPondok Pesantren (Ponpes) yang identik dengan tempat belajar kitab kuning, ternyata juga bisa mengajari para santri untuk mengolah buah salak menjadi kripik. Itulah yang diterapkan di Ponpes Baitul Atieq, Desa Cepoko Kecamatan Berbek Kabupaten Nganjuk, yang mengajarkan proses mulai dari memetik, mengolah, hingga pengemasan.

Lantas bagaimana para santri tersebut melakukan hal ini di sela kesibukan mempelajari ilmu agama?

Ketika ada waktu longgar, para santri di Ponpes ini bersama-sama menuju kebun untuk memetik buah salak. Lingkungan sekitar Ponpes memang dikenal dengan kampung salak, karena mayoritas memiliki kebun salak.

Selain santri putra, santri putri juga ikut memetik buah salak untuk diolah menjadi kripik di pondoknya. Setelah buah salak yang dipetik dirasa cukup untuk kebutuhan membuat kripik, para santri kemudian membawanya ke pondok.

Sesampainya di pondok para santri putri segera mengupas buah salak yang masih segar. Mereka memisahkan antara buah dengan bijinya. Lalu buah salak diiris layaknya kripik pada umumnya.

Setelah proses mencuci irisan buah salak selesai, kemudian santri putra yang bertugas di mesin pengolahan memasukkan irisan tersebut. Menurut keterangan para santri, proses di dalam mesin pengolahan berlangsung sekitar satu setengah jam.

Selanjutnya buah salak dikeluarkan untuk dipindahkan ke mesin pemeras minyak. Tujuannya agar minyak dan salak yang sudah kering menjadi kripik bisa terpisah. “Proses selanjutnya yaitu memasukkan kripik salak hasil olahan ke dalam plastik kemasan yang sudah disiapkan,” ujar Caca Sholihah, santriwati di Ponpes tersebut.

Kripik hasil olahan para santri ini sudah mulai laris terjual hingga ke luar kota. Mereka memasarkan produknya dengan sistem online maupun offline. Bagi para santri, pembelajaran mengolah kripik salak menjadi bekal dirinya untuk berwirausaha setelah nanti lulus dari pondok.

Reporter: Andik Sukaca

Editor: Achmad Saichu