Rupiah Terus Melemah, Ini yang Dilakukan Pengusaha Tempe dan Tahu

Sidoarjo, koranmemo.com – Beberapa hari belakangan nilai tukar rupiah cenderung merosot dibanding dolar Amerika. Dengan adanya hal tersebut, harga komoditas barang impor pasti mengalami lonjakan harga.

Di Sidoarjo, ada kampung sebagai sentra pembuatan tahu dan tempe. Setiap harinya mereka rata-rata menghabiskan 9 sampai 10 ton kedelai untuk memproduksi tahu dan tempe setiap harinya.

“Mayoritas pembelinya juga para pengusaha yang menjadi anggota. Jumlahnya ada 278 pengusaha,” terang Sariman salah satu pengusaha tempe di Desa Sepande, Candi, Sidoarjo.

Dikatakan, harga tahu dan tempe memang tidak naik. Mereka menyiasati dengan mengubah ukuran dua jenis penganan berbahan baku kedelai yang banyak dikonsumsi masyarakat ini. “Ukuran semakin kecil seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika,” tambahnya.

Jika selama ini di Sidoarjo atau sekitarnya melihat ukuran tempe atau tahu mengecil, ia menyebut j hal itu bukan dilakukan oleh pengelola warung, rumah makan, pasar, atau sebagainya.

Tapi sejak dari pembuatnya ukuran tahu dan tempe memang sengaja dikurangi lantaran harga kedelai semakin mahal.

Sariman menjelaskan lebih jauh, selama ini Kedelai yang dibelinya dibanderol harga kisaran Rp 7.000 – Rp 7.200 perkilogram. Namun ia mengaku jika belakangan ini harganya naik di kisaran angka Rp 7.400 – Rp 7.600 perkilogramnya.

“Kami tidak berani menaikkan harga jual. Yang bisa kami lakukan hanya mengurangi atau mengecilkan ukurannya saja,” kata Sariman, pengusaha tempe di Desa Sepande, Kecamatan Candi, Sidoarjo

Upaya mengecilkan ukuran itu dianggap paling tepat untuk menyiasati kondisi sekarang ini. Dengan cara itu, produksi mereka tetap bisa berjalan tanpa harus menelan kerugian ketika harga bahan baku utama sedang naik.

Dengan mengurangi volume, Sariman tetap bisa menjual tempe mendoan Rp 1.000 per biji, dan tempe daun kotak Rp 2.000 perbiji. Harga yang sama dengan kondisi sebelum kedelai mahal pasca menguatnya dolar.

Demikian pula yang dilakukan perajin tahu di Sepande. “Kalau menaikkan harga, kami khawatir pembeli kabur. Makanya pilih memperkecil ukuran saja. Biasanya kalau manikkan harga itu bersama-sama dengan pengusaha lain. Serempak, bersama-sama agar tidak berpengaruh negatif terhadap konsumen,” ungkap Farid pengusaha tahu di Sepande.

Kendati peningkatan harga kedelai sejauh ini masih bisa disiasati dengan menurunkan volume, mereka tetap berharap nilai tukar rupiah kembali normal dan stabil, agar usaha yang mereka lakoni tidak kalang kabut.

Selama ini, mayoritas pengusaha  tahu tempe di Sepande membeli kedelai sebagai bahan baku dari Koperasi Tempe-Tahu (Kopti) Karya Mulya di desa setempat.  Setiap hari, koperasi tersebut biasa menyalurkan kedelai sekitar 9 sampai 10 ton kedelai.

“Kedelainya mayoritas, atau bahkan semua, berasal dari impor. Kami mendatangkan kedelai dari distributor, dan sempat mendatangkan sendiri langsung dari luar negeri,” ungkap Sukari, Ketua Kopti Karya Mulya.

Karena itulah, nilai tukar rupiah terhadap dolar sangat berpengaruh terhadap harga kedelai. Yang tentunya, berpengaruh juga terhadap kelangsungan usaha para pengusaha tahu tempe di sana.

Seharusnya, diceritakan Sukari, sekarang ini harga kedelai waktunya turun. Sebagai dampak dari pembatalan impor kedelai China dari Amerika sejak sekitar empat bulan lalu.

“China adalah pengimpor kedelai terbesar dunia. Dengan pembatalan pesanan kedelai China dari Amerika, tentu volume kedelai melimpah dan berimbas pada turunnya harga,” urai pria yang juga pengudaha tahu tempe di Sepande tersebut.

Namun seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, harga kedelai di pasaran tetap saja naik. Hanya saja, kenaikan harga tidak terlalu signifikan karena secara global harga kedelai sedang turun.

Jika harga kedelai tidak turun dan nilai tukar rupiah terus melemah, harga kedelai di pasaran Indonesia diperkirakan sekarang ini bisa di atas Rp 8.000 perkilogramnya.

“Tapi karena kondisi itu tadi, kenaikan harga kedelai masih terjangkau oleh pengusaha tahu dan tempe. Memang naik, tapi tidak terlalu signifikan,” tandasnya.

Diungkapkannya, sekarang ini harga kedelai di tingkat importir retail paling mahal Rp 7.150 perkilo. Itu merek paling bagus. Sedangkan merek lainnya, di angka Rp 7.100 dan Rp 7.050 per kilogram.

Di tingkat eceran, harga kedelai dijual sekitar Rp 7.500 perkilogram. “Cukup lumayan, karena sebelumnya di kisaran Rp 6.800 perkilogram,” tukasnya.

Melihat itu, pihaknya juga maklum jika pengusaha memilih mengurangi volume tahu atau tempe produksinya. Sebagai upaya menahan gencetan dolar terhadap usaha yang mereka jalankan.

Reporter Yudhi Ardian

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date