Rupiah Melemah, Pengrajin Manik-manik Malah Panen. Apa Rahasianya?

Jombang, koranmemo.com – Memiliki pasar mayoritas luar negeri, membuat pelaku usaha manik-manik Jombang justru panen berkah di tengah kondisi mata uang rupiah yang melemah terhadap dolar amerika (USD).

Ini seperti dirasakan Nur Wahid (48), pengrajin manik-manik asal Desa Plumbon Gambang Kecamatan Gudo. Sebab menurutnya 70 persen produksi manik-maniknya diekspor kebluar negeri seperti Amerika Serikat (AS), Afrika, Vietnam serta Malaysia.

“Kalau pasar lokalnya Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kalimantan. Ada juga di Toraja (Tana Toraja – Sulawesi Selatan, red),” kata Wahid kepada wartawan, Selasa (11/9).

Bapak 4 orang anak ini menambahkan, saat ini dirinya bersama lebih dari 20 pekerjanya tengah mengerjakan pembuatan beberapa jenis manik-manik seperti manik majapahit, monte salak, sevron, lamyang, burnao, irian, harmoni dan haye.

“Kalau permintaan ini berbeda-beda. Kalau Vietnam biasanya untuk fashion. Sementara Afrika dipakai acara adat. Yang terus laku itu manik-manik etnis karena untuk kebudayaan,” ujarnya.

Masih menurut Wahid, rata-rata setiap bulannya untuk penjualan ke luar negeri dia mampu mengirim 3 koli manik-manik, dimana tiap koli berisi sekitar 1.000 manik-manik kalung dan gelang.

“Nilai ekspor saya sekarang 15-30 USD. Kalau sebelumnya di angka 5-10 USD. Harga per biji 1-5 USD,” ungkapnya.

Dengan tingginya kura dolar AS dimana masih pada kisaran Rp 14.800 lebih, otomatis mendongkrak keuntungan bisnis yang dijalani Wakid sejak lebih dari 20 tahun lalu ini.

“Dengan Dolar (AS) naik, kami diuntungkan. Karena dengan bahan baku lokal kami bisa ekspor dengan harga dolar. Keuntungan kami naik 30 persen lebih,” pungkasnya.

Reporter : Agung Pamungkas

Editor : Della Cahaya Praditasari

Follow Untuk Berita Up to Date