RTRW Kabupaten Trenggalek Bakal Diubah, Ada Apa?

Trenggalek, koranmemo.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek bakal mengubah rencana tata ruang wilayah (RTRW). Perubahan itu dilakukan karena RTRW saat ini dinilai sudah tidak sebanding dengan perkembangan dan kondisi di Kabupaten Trenggalek. Dengan adanya perubahan RTRW itu diharapkan tumbuh kembang ekonomi di Trenggalek semakin ideal dengan potensi dan kekayaan alam yang dimiliki.

Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak mengatakan, perubahan RT/RW itu dilakukan berdasarkan berbagai pertimbangan dan kajian. “Kami melihat asesment di lapangan 21% kurang membutuhkan perubahan karena tidak sesuai dengan realita,” ujarnya saat dikonfirmasi sesuai acara Sosialisasi dan Konsultasi Publik Tingkat Kabupaten Dalam Rangka RTRW di Pendopo, Kamis (11/10).

Wakil gubernur (wagub) Jawa Timur terpilih itu mencontohkan, saat akan dilakukan pembangunan fasilitas rawat inap menuai kendala karena berdasarkan tata ruang, zona itu masuk kawasan persawahan. ”Ada sampai yang bermasalah hukum, padahal itu di tanah dia sendiri, tapi batasnya karena dianggap kawasan hutan. Nah inikan hal-hal yang konkret,” jelasnya.

Apalagi menurut Emil, Kabupaten Trenggalek saat ini tengah berkembang cukup pesat. Tumbuh kembangnya ekonomi secara masif bakal ditopang dengan adanya sejumlah infrastruktur di Jawa Timur selatan.

“Setelah diakumulasi dinilai tim konsultan, tim pakar 21 persen maka dilakukan revisi RTRW. Revisi RTRW ini pada intinya kita juga merancang Trenggalek yang nantinya menjadi pusat ekonomi pusat selatan jawa timur,” katanya.

Infrastruktur yang dimaksud, lanjut Emil adalah pelabuhan niaga di Pantai Prigi dan jalan lintas selatan, yang diyakini bakal mendongkrak sektor perekonomian warga Trenggalek. Namun untuk mengubah RTRW perlu berbagai pertimbangan dan kajian mengingat topologi Trenggalek rawan bencana.

“ Jangan sampai yang arusnya terjaga tegakannya itu malah dikonversi jadi uji daya pertanian yang membahayakan karena longsor dan tanah gerak,” jelasnya.

Sektor lain yang masih dikaji terhadap perubahan RTRW itu adalah keberadaan tambang di daerah selatan. Tambang itu sedikit banyak juga mendongkrak perekonomian warga sekitar. “Kalau kita hilangkan maka potensi ekonomi pemberdayaan masyarakat berbasis sumberdaya mineral itu hilang total. Maka tidak kami hilangkan, namun ada komitmen dari pemda, artinya nggak serta merta termasuk dari masyarakat juga,” kata Emil.

Disinggung soal perencanaan penataan 33 persen lahan datar yang dimiliki Trenggalek, Emil menyebutkan bakal membagi dalam beberapa sektor. Diantaranya adalah lahan datar sekitar 20 ribuan hektar untuk pemukiman atau kawasan campur untuk industri kecil dan industri sedang dan 12 ribu hektare untuk sektor pertanian. “Yang sekitar 33 persen tadi, 12 ribu hektar untuk pertanian, yang 20 ribuan untuk kawasan budidaya atau kawasan yang boleh dibangun,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetya
Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date