RPH Liar Digrebek Polresta Sidoarjo

Sidoarjo, koranmemo.com – Lagi, petugas gabungan dari Satgas Pangan Satreskrim Polresta Sidoarjo dan Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Sidoarjo kembali menggerebek lokasi Rumah Potong Hewan (RPH) liar, Rabu (5/12) malam.

Di sana, petugas menemukan adanya dugaan praktik penggelonggongan sapi. Tidak hanya itu, petugas juga menemukan penyembelihan sapi betina produktif yang sedang hamil.

Jika seperti yang diberitakan sebelumnya, penggerebekan dilakukan di Desa Seketi Balongbendo, Sidoarjo kali ini kegiatan serupa ditemukan di kawasan padat penduduk Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo.

RPH itu milik H. Jai. Petugas gabungan menggerebek lokasi sekitar pukul 20.00 WIB. Berlokasi dibelakang rumah tinggalnya, aktifitas penyembelihan saat itu sedang berlangsung. Disana, hasil pengakuan pemilik, 10 ekor Sapi didatangkan malam itu sekitar pukul 19.30 WIB dengan menggunakan truk.

Dari hasil penyelidikan sementara, Kasat Reskrim Polresta Sidoarjo Kompol M. Harris menyebut adanya dugaan praktik penggelonggongan sapi. Ia mengatakan hal tersebut dengan melihat hasil daging 4 ekor sapi yang sudah disembelih.

Di tempat yang diduga tidak berizin itu juga ditemukan sapi betina produktif yang disembelih. Hal itu nampak terlihat setelah petugas melihat gigi sapi yang masih berusia sekitar 2 sampai 3 tahun.

“Hari ini kami lakukan sidak atau operasi untuk mengantisipasi kelangkahan kebutuhan pokok khususnya daging sapi. Kami juga bersama Dinas Pangan dan Pertanian untuk melakukan operasi tempat pemotongan hewan liar,” ucap Kasat Reskrim Polresta Sidoarjo Kompol Muhammad Harris saat di TKP.

Usai melihat di lokasi penyembelihan tersebut, petugas gabungan juga menemukan satu sapi betina produktif sedang hamil yang belum disembelih. Dirinya juga menjelaskan, sejatinya sapi betina produktif tidak boleh dipotong karena masih ada masa umurnya sehingga menjaga kebutuhan stok daging di pasar.

Untuk menindaklanjuti praktik yang lebih dari satu tahun tersebut, pihaknya membawa sample rahang gigi untuk dilakukan pengecekan dan mengamankan seorang pemilik untuk dilakukan pemeriksaan. “Kami lakukan pemeriksaan dahulu. Apabila memasuki unsur pidana di undang-undang peternakan, maka kami berikan sangsi kepada yang bersangkutan,” jelasnya.

Ia menambahkan, apabila yang bersangkutan terbukti bersalah, maka yang bersangkutan dijerat Undang-undang peternakan pasal 86 dengan ancaman kurungan maksimal 9 bulan penjata. “Ada undang-undangnya sendiri yaitu hukumannya 9 bulan penjara,” ungkapnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama Kasi Kesehatan Masyarakat dan Veteriner (Kesmasvet) Dinas Pangan dan Pertanian Sri Puji Astuti mengatakan, tujuan sidak yang dilakukannya bersama Satgas Pangan Satreskrim Polresta Sidoarjo ini menjaga populasi sapi betina produktif. Karena indikasi pemotongan betina produktif di Sidoarjo sangat besar

“Populasi kita semakin lama semakin menyusut. Padahal ditahun mendatang, kalau bisa kita sebagai penyedia daging. Kalau semakin lama semakin habis populasinya, maka akhirnya stok daging terus berkurang,” katanya.

Penggerebekan ini, sambung wanita yang akrab disapa Nuning tersebut, tidak luput dari laporan masyarakat terkait maraknya penyembelihan sapi betina produktif. “Banyak keluhan dari masyarakat agar rumah pemotongan hewan ilegal ini untuk segera di tertibkan,” pungkasnya.

Reporter Yudhi Ardian

Editor Della Cahaya

Follow Untuk Berita Up to Date