[REVIEW] Folklore: A Mother’s Love, Ketika Wewe Gombel Ditangani Joko Anwar

Koranmemo.com – Joko Anwar memang tidak ada matinya jika diminta untuk menyutradarai film ber-genre horor atau thriller.  Saya sendiri sudah menjadi fans berat karya-karyanya sejak menonton film berjudul Fiksi (2008) yang diperankan oleh Ladya Cheryl dan Donny Alamsyah.  Padahal di film tersebut Joko Anwar tidak mendapuk sebagai sutradara melainkan penulis naskah.  Tapi pria berusia 42 tahun itu sudah berhasil menarik perhatian saya untuk menonton film-filmnya yang lain.  Belakangan, saya baru tahu kalau dia juga yang berada di balik Janji Joni yang notabene adalah salah satu film favorit saya sepanjang masa.

Kembali ke genre horor dan thriller yang menjadi spesialisasinya Joko Anwar, setelah meraih sukses dengan Pengabdi Setan (2017), Joko Anwar kembali menelurkan karya bergenre horor yang baru berjudul Folklore: A Mother’s Love.  Tapi karya yang ini tidak diangkat ke layar lebar, namun ditayangkan di HBO Asia—aplikasinya bisa diunduh di Playstore—secara cuma-cuma.  Durasinya tidak terlalu panjang, hanya sekitar 48 menit, namun sukses membuat jantung saya deg-degan dan otak saya berpikir keras.  Untung saja, tidak seperti film-filmnya yang sebelumnya, Joko Anwar memberikan jawaban yang cukup jelas di akhir cerita.

A Mother’s Love bercerita tentang seorang single parent, ibu muda, Murni, yang diperankan oleh aktris Marissa Anita dan anaknya bernama Jody yang diperankan oleh aktor cilik Muzakki Ramdhan yang diceritakan masih berusia 7 tahun.  Karena tergolong film pendek, maka kita tidak akan diajak berlama-lama mengenal latar belakang ibu dan Jody.  Kita akan langsung diajak masuk ke inti masalah setelah perkenalan tokoh yang tidak lebih dari 5 menit.

Sejak mengikuti kelas skenario dari Ernest Prakasa, setiap nonton film, saya secara otomatis akan langsung mencari bagian ‘save the cat’ dari seorang tokoh.  Dan di film ini, bagian tersebut diperlihatkan sekitar 3-4 kali, yakni ketika ibu membonceng Jody.  Jody yang saat itu usianya masih 7 tahun sudah memakai helm menurut saya memperlihatkan kalau ibu sangat mementingkan keselamatan dan keamanan Jody (di sekitar saya banyak yang tidak memakaikan helm padahal anaknya sudah besar).  Dan setiap tangan Jody tidak memeluk pinggangnya, ibu pasti akan meraih tangan Jody dan meletakkannya di pinggang. Yah, sesederhana itu tapi ibu berhasil mencuri hati semua penonton dan membuat kami peduli pada hidupnya dan anaknya.

Horor dimulai ketika pasangan ibu dan anak ini diusir dari kontrakan mereka. Mereka akhirnya menginap di sebuah rumah tempat ibu bekerja.  Rumah yang katanya sudah lama kosong ini ternyata tidak benar-benar kosong.  Loteng rumah ini sudah berubah menjadi tempat persembunyiang Kolong Wewe atau Wewe Gombel. Sudah tahu dong, apa itu Wewe?

Bagi yang belum tahu, Wewe adalah urban legend yang sangat terkenal di Indonesia sejak zaman nenek moyang kita.  Bagi yang tinggal di pedesaan, pasti pernah mendengar tentang cerita si Wewe, yang suka mengambil anak-anak kecil yang masih berkeliaran di luar rumah menjelang Magrib.  Biasanya, orang tua akan mengancam anak-anaknya seperti ini, “Surup-surup ojo kluyuran, engko digondol Wewe! (Magrib jangan keluyuran nanti diculik Wewe)!”.  Siapa yang pernah ‘diancam’ seperti itu?

Entah benar atau tidak, nyatanya banyak yang percaya kalau Wewe ini benar-benar ada.  Banyak pula cerita-cerita yang beredar tentang anak yang diculik Wewe.  Ada yang bisa kembali, namun ada pula yang menghilang untuk selamanya.

Di film A Mother’s Love, sosok Wewe ini menurut saya diceritakan dengan versi yang lebih baik.  Dia tidak sejahat dan semengerikan yang diceritakan oleh nenek saya ketika saya masih kecil.  Seperti yang bisa dilihat di trailer film ini, Wewe diceritakan hanya akan menculik anak-anak yang tidak dicintai oleh orang tuanya.  Anak-anak itu hanya bisa diambil oleh Wewe jika anak-anak itu bersedia.  Kalau tidak, ya tidak akan bisa.  Wewe diceritakan sebagai hantu yang sebenarnya menyayangi anak-anak.  Namun karena dia hantu, tentu saja dia tidak mungkin memasak di dapur selayaknya manusia normal kan?  Makanya dia hanya bisa memberikan makan anak-anak yang dia ambil itu dedaunan.  Lama-lama, anak-anak itu tentu saja akan mati jika setiap hari hanya makan daun.

Dari sini, sudah bisa membayangkan belum, cerita A Mother’s Love ini akan mengarah kemana? Daripada spoiler, saya akan membiarkan imajinasi kalian bekerja sampai kalian menonton sendiri film ini.

Bagi yang sudah menonton film-film Joko Anwar sebelumnya, pasti sudah hapal bagaimana ciri khas Joko Anwar.  Karena film ini, memang sangat Joko Anwar!  Sosok-sosok gaib yang ada di film ini muncul tepat waktu, tapi tidak bisa saya duga kapan akan muncul.  Tidak terlalu mengumbar jump scare namun itu yang membuat saya semakin ngeri.  Kapan ‘dia’ akan muncul?  Permainan pengambilan gambarnya memang ciamik dan sinematografinya juga keren. Pembangunan suasana ngerinya juga tidak asal, sehingga kita dibuat penasaran dan tidak bosan sampai akhir film.

Nah, bicara  tentang akhir film, dengan tidak bermaksud memberikan spoiler, kalian harus bersiap-siap dengan kejutan yang disiapkan oleh Joko Anwar di akhir film-nya.  Kalian tidak hanya akan dibuat melongo sekali, namun dua kali!  Ada apa yaaa? Twist after twist yang menurut saya layak untuk diacungi jempol.  Joko Anwar juga dengan cerdas menabur “perangkap” di sepanjang film agar kita para penonton percaya kalau “itu” adalah twist yang disiapkan oleh Joko Anwar.

Selain Joko Anwar, bintang dari film ini tentu saja adalah penampilan dari Marissa Anita dan Muzakki Ramdhan!  What a duo!  Penampilan keduanya sebagai ibu dan anak sangat  meyakinkan.  Muzakki bisa mengimbangi Marissa yang memang sudah  diakui kemampuannya sejak penampilannya di Selamat Pagi, Malam.  Terutama di  adegan menjemur baju, kalian harus menyiapkan hati kalian untuk clekit-clekit karena itu jugalah yang saya rasakan melihat penampilan mereka berdua. Dan kata Marissa, di bagian inilah para kru film juga ikut menangis saat proses syuting.  Hmm…Saya rasa, baik Marissa maupun Muzakki punya potensi untuk menjadi besar di dunia perfilman Indonesia ke depannya.

Pesan dari film ini yang harus kita ingat adalah kasih ibu benar-benar sepanjang massa.

Editor: Della Cahaya Praditasari

Follow Untuk Berita Up to Date