Ratusan Uang Kuno Diserahkan ke Museum, Begini Wujud Aslinya

Tulungagung, koranmemo.comMuseum Wajakensis Tulungagung yang bertempat di Desa/Kecamatan Boyolangu, pada (3/10) lalu, telah menerima ratusan uang koin kuno, dari seorang anggota TNI yang bertugas di Blitar. Hanya saja pihak museum belum bisa memastikan uang kuno tersebut dari kerajaan mana.

Hariadi pengelola Museum Wajakensis, ketika dikonfirmasi dirinya tidak menampik adanya hal tersebut. Namun, dia belum berani memastikan, uang kuno itu berasal dari kerajaan mana. Selain itu uang tersebut digunakan sekitar tahun berapa.Menurutnya untuk mengetahui secara pasti, butuh penelitian lebih lanjut. Karena itulah, kepingan uang kuno itu bakal dikirim ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan. “Rencana pada 9 Oktober mendatang, saya kirim ke sana,” ungkap Hariadi, Jumat (5/10).

Dugaan sementara, kata Hariadi, uang kuno itu merupakan peninggalan Jepang. Melihat ada beberapa huruf Jepang pada uang itu. “Namun itu baru sebatas dugaan. Lebih detail tetap menunggu hasil penelitian dari BPCB Trowulan,” tandasnya.

Jika dilihat dari fisiknya, uang kuno berbentuk lingkaran. Ukurannya hampir sama dengan uang receh sekarang pecahan Rp 500. Di bagian tengah uang kuno itu, terdapat lubang. Karena terlalu lama terpendam, uang kuno itu sudah saling menempel antara satu dengan lainnya, serta dipenuhi karat atau korosi.

Uang kuno itu, diperoleh pihak museum, setelah ada seorang anggota TNI yang menyerahkannya. Diketahui prajurit itu bernama Dedi Puji K. “Dia seorang anggota TNI, dinas di Blitar,” ujar Hariadi saat ditemui di museum.

Anggota TNI itu, mendapatkan uang kuno dari para penambang pasir di wilayah Desa Pulotondo, Kecamatan Ngunut. Kali pertama, dia menyerahkan sekitar 582 biji pada Agustus lalu. Selanjutnya pada 3 Oktober, menyerahkan lagi 208 keping uang kuno. “Dia (prajurit TNI) memang ingin menyelematkan benda-benda purbakala, agar tidak jatuh ke orang yang salah,” jelas Hariadi.

Diperkirakan, kawasan Desa Pulotondo, masih banyak menyimpan berbagai peninggalan bersejarah. Sebab, di sana sering ditemukan benda-benda purbakala. Misalnya batu bata berukuran besar, patung, ataupun lain sebagainya. Diduga, kawasan itu dahulu menjadi pusat kehidupan sebuah kerajaan. “Karena itulah, sudah sewajarnya kawasan itu harus dilindungi agar benda-benda bersejarah di dalamnya tidak rusak ataupun dicuri orang,” pungkasnya.

Reporter Denny Trisdianto/Jabir
Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date