Ratusan GTT  “Siluman” Tak Dapat Insentif

Madiun, koranmemo.comSedikitnya ada sekitar 300 guru tidak tetap (GTT) di Kabupaten Madiun bakal gigit jari karena tidak mendapat insentif bersumber dari APBD.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun Sodik Hery Purnomo mengatakan, mereka tidak diberi insentif, karena proses pengangkatan GTT itu tidak sesuai prosedur. Sehingga tidak masuk dalam data base dinas pendidikan.

“Kita tidak mengetahui keberadaan 300 GTT itu. Karena pengangkatan dilakukan langsung oleh kasek (kepala sekolah) tanpa mengetahui dinas,” terangnya.

Menurutnya, GTT yang terdaftar dalam data base Dindik yang berhak menerima insentif dari pemkab Madiun. Adanya ratusan penumpang gelap itu pun berada di luar dugaan dindik.

”Selama ada pengangkatan, pasti ada penambahan alokasi gaji. Itu, jika pengangkatannya sepengetahuan dinas,” terangnya.

Insentif itu, dikatakan Sodik sudah mulai ditransfer ke rekening semua tenaga kontrak tersebut pekan ini, mulai Rp 400 ribu hingga Rp 750 ribu.

Namun, Sodik memastikan para GTT gelap itu tetap mendapat gaji. Yakni dari dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang disisihkan masing – masing sekolah. Jumlahnya memang tidak lebih dari Rp 300 ribu per bulannya.

Masalah tersebut mendapat sorotan Plt Ketua DPRD Kabupaten Madiun Y Ristu Nugroho.
Dia meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan berbenah diri. Sistem rekrutmen GTT itu harus diperbaiki. Meskipun, pengangkatan GTT itu dilakukan sendiri oleh masing-masing kepala sekolah. Namun, tetap harus diketahui oleh pihak Dindik.

Jika tanpa sepengetahuan Dindik, pastilah mereka tidak akan masuk dalam penganggaran gaji oleh Dindik. Dindik juga tidak bisa seenaknya memasukkan mereka setelah APBD digedok.

‘’Pengangkatan GTT, PTT dan semua operator jangan jalan sendiri-sendiri. Harus saling mengetahui,’’ ungkapnya.

Ristu pun memahami jika banyak data GTT yang tercecer. Bagaimana pun, Kadindik Sodik Hery Purnomo masih beradaptasi dengan lingkungan barunya. Banyak hal yang dibenahi setelah dia dilukir dari posisinya semula sebagai Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun). Tak heran jika hanya 1.200 GTT yang terdata di Dindik.

Sementara kenyataan di lapangan jumlah GTT tersebut tembus 1.500 tenaga. ‘’Temuan ini harusnya menjadi yang terakhir. Pengangkatan dan pendataan GTT harus rapi,’’ terangnya.

Reporter:  Juremi

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date