Ramadan Untuk Memperbaiki Diri Menuju Kebajikan

Oleh : Choirul Anam, Ketua Dewan Instruktur GP Ansor Tulungagung

Tulungagung, koranmemo.com – Setiap bulan Ramadan tiba, selalu terurai selaksa cerita, khususnya tentang pengamalan ibadah dan kondisi ruhiyah insan-insan pecinta Ramadan. Semua orang pasti dapat memaknai bulan ini dengan pemahaman dan sudut pandang yang berbeda.  Kemampuan memaknai Ramadan pun sangat bergantung kepada nilai-nilai iman dan taqwa dan indikasi keshalihan qolbu seorang hamba. Yang pasti, berpuasa sebulan penuh tentunya bukan lagi makna yang biasa bagi kita yang senantiasa membaca hikmah, mengaji dan mengkaji arti dari setiap kebesaran Ilahi.

Puasa Ramadan bukan hanya mengajarkan kita menahan rasa haus dan lapar, tetapi puasa juga mengajarkan kepada kita bagaimana menjaga harmoni atau keseimbangan. Keseimbangan antara yang formal dan yang substansial. Artinya, kita selalu menjaga lisan, menjaga fikiran dan menjaga tindakan kita selama melakukan ibadah puasa.

Dalam kita beribadah puasa, tentu kita harus menjaga lisan, menjaga fikiran, menjaga tindakan-tindakan kita agar tidak destruktif. Kita harus jaga dengan baik agar puasa yang kita jalankan, ibadah yang kita lakukan, bukan hanya mendapatkan rasa haus dan lapar saja, tetapi mendapatkan pahala yang memang dijanjikan oleh Allah SWT kepada kita semua.

Ramadan merupakan Syahrul Qur’an, Ramadhan mengingatkan kita akan pentingnya mengaji dan mengkaji ayat-ayat Ilahi. Diturunkannya Al-Qur’an di bulan suci ini memberikan isyarat bahwa wahyu Alloh SWT akan mampu dibaca, dikaji, dimaknai dan diamalkan dengan jiwa yang suci. Berkaitan dengan ini, Ramadan juga merupakan Syahrul Jihad dan Syahrul Tarbiyah. Ramadhan dapat dijadikan momentum serta landasan konseptual untuk meluruskan pengertian jihad. Di bulan ini, semua umat muslim melakukan jihad besar yakni bersungguh-sungguh memerangi hawa nafsu dan amarah.

Proses jihad ini sangat berkaitan dengan pengelolaan emosi yang saya sebutkan di atas. Jihad di bulan Ramadan ini juga dapat kita maknai untuk memerangi kemiskinan melalui sedekah, serta memerangi kebodohan melalui pengamalan Ramadan sebagai Syahrul Tarbiyah atau bulannya pendidikan.

Mengkaji Al-Qur’an dan memaknai puasa merupakan pendidikan ruhiyah dan batiniyah yang luar biasa bagi hidup dan hati manusia. Berbagai ibadah Ramadhan seperti tarawih, tadarus Al-Qur’an, sedekah, serta aktivitas Ramadhan melalui Pesantren Ramadhan merupakan tafakur dan tasyakur nikmat sebagai esensi Ramaan demi menyongsong fitri.

Ramadan memiliki makna yang begitu sempurna bagi hamba yang senantiasa berkaca kepada pahitnya dosa dan manisnya taqwa. Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin.

Editor : Gimo Hadiwibowo

Follow Untuk Berita Up to Date