Puluhan Ribu Dobel L Diamankan

Kediri, Koran Memo – Satnarkoba Polresta Kediri kembali mengamankan pengedar pil dobel L, Sabtu (19/6). Mereka adalah At (17), warga Kecamatan Grogol dan Budiono (32) warga Desa Datengan Kecamatan Grogol. Dari penangkapan kedua tersangka petugas mengamankan 12.350 butir dobel L.

Tersangka pengedar narkoba dobel L saat pemeriksaan di Mapolres Kediri Kota
Tersangka pengedar narkoba dobel L saat pemeriksaan di Mapolres Kediri Kota

“Tersangka Budiono merupakan daftar pencarian orang (DPO) petugas kami,” tegas Kasat Narkoba Polres Kediri Kota AKP Ridwan Sahara.

Informasi yang dihimpun Koran Memo, awalnya petugas mengamankan AT. Penangkapan ini merupakan tindak lanjut informasi yang diterima Satnarkoba Polresta Kediri. At diduga merupakan pengedar dobel L di wilayah Kecamatan Grogol.

Sekitar pukul 16.00 WIB, anggota Satnarkoba memperoleh informasi jika At hendak melakukan transaksi di sebuah lapangan di Kecamatan Grogol. Petugas langsung bergerak dan melakukan serangkaian penyelidikan. Hasilnya diketahui kebenaran jika At hendak mengantar 200 butir dobel L pesanan seseorang.

Berhasil mengamankan At, tim opsnal melakukan pengembangan. Dari keterangan At, pil tersebut didapatkan dari Budiono. Petugas langung mendatangi rumah Budiono yang terletak di Desa Datengan, Grogol. Petugas melakukan penggeledahan dan menemukan 150 butir dobel L di kamar tersangka.

“Barang bukti lain dititipkan tersangka pada temannya yang berlokasi didepan rumahnya,” terang Ridwan.

Kepada penyidik, Budiono mengaku jika dirinya hanya diminta untuk menjualkan. Tawaran tersebut didapatnya dari seorang teman berinisial Do, warga Grogol. Dia mendapat titipan sebanyak 30 ribu butir dobel L dan dijual dengan harga Rp 300 ribu per 1000 butirnya.

“Saya mendapatkan komisi sebesar Rp 50 ribu setiap menjual 1000 butir dobel L,” akunya.

Budiono mengaku jika selama dua minggu ini dia berhasil menjual 18 ribu dobel l. Sementara itu At mengaku jika dirinya hanya diminta untuk mengantarkan pil koplo yang dipesan dari Budiono. At mengaku dapat komisi sebesar Rp 20 ribu atas jasanya tersebut.

“Saya hanya diminta mengantarkan pil ini dan mendapat upah Rp 20 ribu,” ungkapnya.

Atas perbuatannya kini At dan Budiono harus mendekam dibalik jeruji besi. Penyidik menyangkakan pasal 196 Undang-Undang No 36/2009 tentang kesehatan. Ancaman hukuman maksimal sepuluh tahun penjara. (c5)

Follow Untuk Berita Up to Date