Proyek Jembatan Rejoto Sisakan Masalah

Mojokerto, koranmemo.com – Proyek pembangunan Jembatan Rejoto, ¬†penghubung Kelurahan Pulorejo dan Blooto di Kecamatan Prajurit Kulon, senilai Rp 40,2 miliar telah tuntas dan resmi dioperasikan Pemerintah Kota Mojokerto, Senin (23/1). Namun, tuntasnya proyek itu masih menyisakan berbagai persoalan. Diantaranya dugaan penyerobatan tanah.Dugaan penyerobotan tanah oleh Pemkot Mojokerto dalam proyek jalan dan Jembatan Rejoto dialami Akhiyat, warga Lingkungan Balongkrai Kelurahan Pulorejo. Dia mengaku kehilangan tanah seluas 260 meter persegi. Lahan miliknya yang semula sebagai akses ke pemakaman umum itu tiba-tiba dibanguni jalan selebar 6 meter menuju ke Jembatan Rejoto tanpa pemberitahuan maupun ganti rugi.”Saya kehilangan tanah seluas 260 meter persegi. Jumat (20/1) lalu saya sudah mengadu ke dewan supaya mendapatkan ganti rugi,” kata Akhiyat kepada wartawan.

Tak hanya itu, pada konstruksi jembatan sepanjang 130 meter di atas Sungai Ngotok itu terdapat keretakan pada pondasi jalan menuju jembatan dan terlihat sudah ditambal sulam. Kualitas konstruksi yang terlihat cukup buruk itu tak lepas dari molornya proses lelang.

Proyek multi years yang dijadwalkan dimulai pertengahan 2015, justru baru selesai lelang akhir 2015. Sehingga pekerjaan konstruksi senilai Rp 40,2 miliar itu baru bisa dimulai awal 2016.
Kondisi itu diperparah dengan ambruknya 6 girder (balok) bentang tengah sepanjang 50 meter, Jumat (11/11) tahun lalu. Akibatnya, proyek yang seharusnya rampung 31 Desember 2016 itu molor sampai pertengahan Januari 2017.

Menanggapi persoalan itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) Kota Mojokerto, Wiwiet Febriyanto menjelaskan, pemeriksaan kualitas konstruksi jembatan Rejoto saat ini dalam pemeriksaan Inspektorat. Begitu juga nilai denda yang harus dibayar PT Brahmakerta Adiwira atas molornya pekerjaan.”Soal denda kami serahkan kepada pemeriksaan Inspektorat. Terkait lahan warga, kondisi lahan yang bersangkutan (Akhiyat) sudah menjadi jalan. Ini yang perlu ada penyamaan visi dengan BPN (Badan Pertanahan Nasional) untuk membuktikan kepemilikan lahan tersebut,” terang Wiwiet usai peresmian Jembatan Rejoto. (ag)

Follow Untuk Berita Up to Date