Proyek BPR Delta Artha Molor, Ini Penjelasan Bos PT YAU

Sidoarjo, koranmemo.com – Sejumlah proyek di Sidoarjo yang menggunakan uang APBD 2018 terlambat tuntas. Salah satunya, proyek pembangunan gedung Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Delta Artha. Proyek yang berdiri di atas lahan seluas 500 meter persegi di Jalan Ahmad Yani No 16 Sidoarjo itu dikerjakan oleh PT Yang Andalan Utama (YAU).

Pembangunan gedung kantor bank berstatus BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) Sidoarjo itu nilai kontraknya mencapai Rp 13,8 miliar dengan jangka waktu pengerjaan selama 240 hari.

Beberapa waktu terkahir, memang terlihat pekerjaan proyek pembangunan gedung tujuh lantai itu dikebut. Selain banyak pekerja, pengerjaan juga terus dilakukan sampai larut malam.

Sejatinya, jadwal penyelesaian poyek ini pada tanggal 28 Desember 2018. Namun hingga saat ini, proses pengerjaan proyek baru berjalan sekitar 85 persen.

Namun melihat kondisinya, tidak mungkin rampung sesuai tanggal yang ditentukan. “Memang, tidak cukup waktu untuk selesai tanggal tersebut,” kata Imam Sugiri, bos PT YAU saat ditanya tentang proyek ini, Rabu (26/12).

Menurutnya, ada tambahan waktu selama 55 hari dalam pengerjaan ini. Pihaknya mengaku akan memaksimalkannya, agar proyek segera tuntas. “Harapan saya bisa selesai akhir Januari, bareng peringatan HUT Kabupaten Sidoarjo,” ujarnya.

Menurut dia, tambahan waktu itu sudah sesuai dengan ketentuan. Alasannya, ada beberapa perubahan dalam proyek ini dari perencanaan awalnya.

Diantaranya, perubahan pondasi karena dalam perencanaan awal tidak sesuai dengan lokasi. Tdk hanya itu, perencanaan yang telah dibuat juga “memakan” sepadan jalan.

“Kurang lebih 6 meter. Maka dari itu, ketinggian gedung ditambah. Yang asalnya 5 lantai ditambahkan menjadi 7 lantai,” sambung pengusaha yang juga menjabat ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Sidoarjo tersebut.

Disebutnya, perubahan tersebut membutuhkan waktu sekitar dua bulan dalam perubahan perencanaan itu.”Menghitung lagi perubahan struktur bangunan, perencanaan Mekanikal dan Elektrikal. Dari situ menghabiskan waktu sekitar dua bulan,” urainya.

Pihaknya mengaku kehilangan waktu sekitar 110 hari akibat adanya perubahan-perubahan tersebut. Dari hal tersebut, PT YAU mengaku mengajukan permohonan tambahan waktu sebanyak 90 hari kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang kemudian dilanjutkan ke Direksi BPR Delta Arta. “Tapi pengajuan itu hanya disetujui selama 55 hari,” bebernya.

Karena proyek ini sejak awal didampingi TP4D (Tim Pengawal Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Pusat-Daerah) Kejaksaan Negeri Sidoarjo, menurut Imam Sugiri, kondisi-kondisi yang terjadi itu juga selalu disampaikan ke TP4D.

Terpisah, Kasi Intelijen Kejari Sidoarjo Idham Khalid mengakui bahwa sejumlah proyek di Sidoarjo yang didampingi TP4D mengalami keterlambatan. Termasuk proyek pembangunan gedung BPR Delta Arta.

“Proyek itu mengalami beberapa perubahan, sehingga layak mendapat perpanjangan. Dan hal tersebut sudah sesuai ketentuan,” kata jaksa yang menjabat sebagai Ketua TP4D Sidoarjo ini.

Beda dengan beberapa proyek lain, yang malah direkomendasikan oleh TP4D untuk dihentikan kontraknya. Karena keterlambatan terjadi tanpa ada perubahan perencanaan dan tanpa alasan yang bisa diberikan perpanjangan.

Sementara itu, Direktur BPR Delta Artha Kab. Sidoarjo, Sofia Nurkrisnajati Atmaja mengaku senang jika kantor “baru” nya segera bisa ditempati.

Sehingga dengan adanya penambahan jumlah lantai bisa meningkatkan pelayanan pada nasabahnya yang semakin tahun meningkat jumlahnya.

“Semoga dengan adanya gedung baru ini bisa meningkatkan pelayanan dan memberikan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD),” ujar wanita yang akrab disapa Sofia itu.

Ditambahkan, pihaknya merencanakan membuka kantor cabang di tiga Kec. di Sidoarjo. Yakni Kec. Porong, Tarik dan Taman. “Sekarang dalam proses di Otoritas Jasa Keuangan. Kami berharap akan membuka cabang di setiap Kecamatan yang ada di Sidoarjo,” pungkasnya.

Sekedar diketahui, Gedung PT. BPR Delta Artha Sidoarjo yang dibangun dengan anggaran bersumber dari APBD 2018 senilai Rp.13.865.493.617.

PT. Yang Andalan Utama dinyatakan sebagai pemenang lelang proyek. Sedangkan, Konsultan perencana PT Bangun Sejajar Prima dengan anggaran senilai Rp.327.169.700.

Reporter Yudhi Ardian

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date