PG RMI Kekurangan Tebu

Blitar, koranmemo.com – Pabrik Gula (PG) Rejoso Manis Indo (RMI) yang terletak di Desa Rejoso, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar merupakan pabrik gula dengan desain kapasitas 10.000 Ton Care Day (TCD). Rencana giling perdana dengan kapasitas 6.000 TCD yang akan dilaksanakan pada Juni 2019 mendatang dan target 100 hari giling membutuhkan pasokan bahan baku tebu sebesar 600.000 ton.

Direktur Operasional PT. Rejoso Manis Indo (RMI), I Gede Suwartika mengatakan, hasil inventarisasi, tebu exiting yang tersedia di dalam wilayah Kabupaten Blitar sebesar 6.100 hektar yang sudah terbagi di beberapa pabrik Gula exiting. Sedangkan PG RMI memanfaatkan tebu bebas sebesar 2.402 hektar.

Menurutnya, produktivitas tebu Kabupaten Blitar rata-rata sebesar 65 ton per hektar, artinya petani tebu Kabupaten Blitar yang bekerjasama dengan RMI hanya bisa memasok 163.936 ton tebu. Jumlah ini jauh dari kebutuhan 100 hari giling yang membutuhkan pasokan bahan baku tebu sebesar 600.000 ton.

“Jadi dengan target 6.000 TCD, kami kekurangan bahan baku tebu sebesar 436.037 ton dan akan membutuhkan lahan seluas 6.708 hektar,” kata I Gede Suwartika, Minggu (26/05).

Lebih lanjut I Gede Suwartika menyampaikan, sedangkan jika menggunakan kapasitas 10.000 TCD dengan jumlah hari giling rata-rata nasional 150 hari, dengan produktivitas 70 per hektar, maka dibutuhkan luas sebesar 21.428 hektar.

“Dengan kekurangan pasokan bahan baku tebu ini, dibutuhkan peran serta pemerintah Pusat hingga daerah untuk menyediakan lahan dan bantuan sarana prasarana kepada petani, agar iklim investasi pergulaan nasional dapat berkesinambungan,” jelasnya.

I Gede menambahkan, RMI menjalin kemitraan dengan para petani tebu, dan perbankan melalui Sitem Beli Tebu (SBT). Ini dilakukan untuk transparasi dan mempercepat cash flow petani tebu serta mempermudah petani dalam menghitung analisa usaha tani.

“Dengan sistem ini, adanya isu kualitas, rembesan gula impor, harga gula yang tidak stabil, bisa menjadi alternatif yang efektif dan efisien serta menguntungkan petani,” tandasnya.

Menurut Gede, SBT ini dilakukan melalui pembayaran tebu berdasakan berat netto tebu yang telah ditimbang. “Apabila ada refaksi, maka netto yang digunakan adalah netto setelah dipotong berat refaksi,” ujarnya.

Gede menyebut, pembayaran akan dilakukan setiap 7 hari sejak tebu masuk melalui rekening masing-masing petani tebu melalui pihak perbankan.

Selain itu menurut Gede, sejumlah keuntungan yang bisa dinikmati para petani tebu Blitar, diantaranya biaya angkut lebih kecil, proses distribusi lebih cepat, sehingga keuntungan yang diterima semakin besar, mengingat letak pabrik cukup dekat.

Reporter Arief juli prabowo

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date