Petani Juga Harus Bantu Mengawasi

Kediri, Koran Memo – Tatap muka dengan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) di Desa Tanjung, Kecamatan Pagu, membuka tabir lain permasalahan para petani di Kabupaten Kediri. Pada Masykuri beserta rombongan, para petani mencurahkan uneg-uneg yang mereka hadapi, terutama dalam tiga maalah pokok di pertanian akhhir-akhir ini, yaitu saluran irigasi, pupuk dan tenaga kerja.

Masykuri di acara pertemuan rutin KTNA
Masykuri di acara pertemuan rutin KTNA

Mohammad Arifin, Ketua KPNA Kecamatan Pagu, membuka tatap muka dengan menceritakan keadaan saluran irigasi di beberapa desa yang tergabung dalam KPNA.  Ia mengatakan, meskipun air masih  mengalir dengan cukup lancar, namun keadaan saluran yang ambrol di berbagai titik membuat para petani tak urung merasa cemas dan prihatin.

Salah satunya saluran irigasi di Desa Wonosari.  Sukandi, petani setempa mengeluhkan, plengsengan saluran irigasi di sekitar sawahnya  ambrol, padahal baru satu bulan dibangun.  “Teman-teman petani  jengkel dibuatnya. Kami mengharapkan adanya bantuan dari pihak  terkait untuk menindaklanjuti,” harap dia.

Masalah yang lain, di Kabupaten Kediri yang cukup pelik, yaitu masalah tenaga kerja.  Banyak generasi muda yang diharapkan melanjutkan usaha tani milik keluarga justru lebih tertarik untuk bekerja di toko, pabrik dan pusat-pusat perbelanjaan. Akibatnya, setiap musim tanam dan panen, selalu kekurangan tenaga kerja sehingga proses tanan dan panen menjadi lebih lambat.

Lalu yang ketiga adalah permasalahan pupuk.  Para petani sering kehabisan pupuk bersubsidi, sehingga terpaksa membeli pupuk dengan harga yang lebih mahal.  Meskipun akhir-akhir ini hal tersebut sudah jarang terjadi, namun para petani Kecamatan Pagu ini mengkhawatirkan hal yang sama akan terjadi lagi di masa yang akan datang.

Menanggapi permasalahan dilontarkan para petani, Masykuri mengatakan, agar para petani dan perangkat desa hendaknya saling bersinergi untuk mengatasi setiap permasalahan.

“Misalnya, masalah saluran air.  Sekarang ini kan sudah ada dana desa.  Setiap desa diharapkan merencanakan pembangunan infrastruktur pertanian dengan melibatkan tokoh-tokoh pertanian. Setelah dibangun, para petani dan perangkat desa, harus mengawasi bangunannya,” ujar Masykuri.

Dia berharap, tidak hanya membangun namun warga desa, khususnya petani harus bersama-sama merawatnya.

Demikian juga dengan pupuk.  Pemerintah sudah mengusahakan untuk menjaga agar pupuk bersubsidi tidak jatuh ke tangan yang salah. Salah satunya lewat kerja sama dengan Polres Kediri.  “Tapi Polres dan pemerintah saja tidak cukup.  Para petani juga harus ikut mengawasi,”  kata Masykuri. (c6)