Pesta Ketupat Berbahan Coklat

Blitar, Memo – Bersyukur telah berhasil menjalani ibadah puasa selama 30 hari dan merayakan hari raya Idul Fitri, wisata edukasi Kampung Coklat Blitar menggelar pesta Kpketupat (13/7). Tumpeng ketupat  setinggi 2 meter diarak sejauh 15 kilometer, mulai dari Kampung Coklat yang berada di Desa Polosorejo, Kecamatan Kademangan menuju Lodoyo, Kanigoro, kota Blitar dan kembali Ke Kampung Coklat. Tujuan arak-arakan adalah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang makna kupatan.

Rombongan mengarak tumpeng ketupat raksasa berbahan dasar coklat (rofiq/memo)
Rombongan mengarak tumpeng ketupat raksasa berbahan dasar coklat (rofiq/memo)

Arak-arakan dilakukan dengan mobil berlangsung pukul 09.00 WIB hingga 11.00 WIB. Setiba kembali di Kampung Coklat, rombongan mengarak tumpeng ketupat hingga ke aula diiringi sambutan meriah oleh para wisatawan yang telah menunggu datangnya arak-arakan kurang lebih selama 3 jam.

Acara dimulai dengan duduk bersila bersama-sama di aula Kampung Coklat dilanjut dengan kenduri sesuai dengan tradisi Jawa dengan dipimpin oleh tokoh masyarakat setempat. Lantas mereka menyantap ketupat bersama.

Satu persatu wisatawan yang hadir menerima ketupat yang sudah dipotong dan disajikan dengan sayur oleh karyawan Kampung Coklat. Ketupat ini tentunya memiliki keunikan dari ketupat biasa karena warnanya yang coklat.

Salah satu wisatawan dari Kediri, Santo mengaku menyambut baik acara ini. Sisi edukasi sosialisasi makna ketupat kepada masyarakat sangat bagus untuk kembali memasyarakatkan tradisi lama yang kini berada di ambang kepunahan. Menurut Santo, tentang cita rasa ketupat ini lain dari pada yang lain, rasa dan aromanya beda. “Tentu unik dan beda, warnanya coklat dan cita rasanya lebih sedap, asik deh pokoknya,” kata Rina.

Para wisatawan berebut ketupat yang berbahan dasar coklat (rofiq/memo)
Para wisatawan berebut ketupat yang berbahan dasar coklat (rofiq/memo)

Manajer Operasional Kampung Coklat, Akhsin Al Fata mengatakan event pesta ketupat ini tujuan utamanya adalah syukuran karena telah berhasil menjalani puasa selama 30 hari dan merayakan hari raya idul fitri. “Ini adalah kali kedua pelaksanaan pesta ketupat yang dilaksanakan oleh Kampung Coklat. Setiap tahun akan terus kami lakukan untuk melestarikan tradisi ini karana kupatan itu adalah tradisi warisan dari para Wali yang memiliki makna mensucikan diri,” kata Akhsin.

Lanjut Akhsin, tujuan lain diselenggarakannya acara ini adalah untuk mengenalkan makna yang terkandung di dalam tradisi kupatan dan menyosialisasikan tradisi ini kepada masyarakat.

“Kupatan itu asli tradisi milik bangsa Indonesia, namun sungguh ironis di zaman sekarang ini tradisi ini di ambang kepunahan, masyarakat yang melaksanakan tradisi kupatan hanya sebagian saja, sebagian besar  yang melaksanakan tradisi ini tidak tahu makna di dalam kupatan itu sendiri, melalui event ini kami ingin menyosialisasikan dan mengembangkan tradisi kupatan ini”, ungkap Akhsin.

Akhsin menjelaskan, dalam event ini ketupat berbentuk tumpeng karena ada suatu pengharapan dalam kebersamaan.“Harapan kami adalah kedamaian, ketentraman, dan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia” kata Akhsin.

Akhsin menjelaskan, ketupat yang disajikan kali ini berbeda dari ketupat biasanya karena ketupat ini berbahan coklat. Dibuat demikian adalah untuk lebih memasyarakatkan  coklat kepada masyarakat.

“Masyarakat Indonesia dan dunia harus tahu bahwa coklat milik Indonesia itu bermutu sangat baik, saat ini Indonesia adalah produsen kakao terbesar ketiga di dunia, dengan ini kami ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa pada saatnya nanti kita bisa menjadi yang pertama, kita awali dari Kampung Coklat ini,” tegas Akhsin.(fiq/rif)

 

Follow Untuk Berita Up to Date