Per Februari, DBD Renggut 3 Nyawa

Nganjuk, koranmemo.com – Kepala Dinas Kesehatan Nganjuk Achmad Noeroel Cholis mengatakan, sampai Bulan Februari 2019 ini tercatat ada tiga orang yang meninggal dunia, karena penyakit demam berdarah. Hal itu disampaikan Noeroel Cholis, saat mendampingi Ketua TP PKK Nganjuk Yuni Rahman Hidayat, dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di Desa Cerme dan Desa Babadan, Kecamatan Pace, Jumat (22/2) lalu.

Noeroel Cholis menyampaikan, munculnya korban jiwa dari pasien demam berdarah ini lebih karena terlambat ditangani. Pasien disebutnya baru datang ke rumah sakit, ketika sudah kondisi kritis. Sehingga, setelah datang sore hari, malam harinya langsung meninggal dunia. Ketiga korban itu berasal dari wilayah Sukomoro, Prambon dan Tanjunganom.

Namun demikian, Noeroel mengaku masih akan mendalami lagi 2 dari 3 kasus pasien yang meninggal tersebut. Karena, pihaknya menemukan indikasi ada penyakit kronis lain yang menyertai tubuh pasien. Sehingga, ketika terserang demam kemudian menyebabkan meninggal dunia.

Untuk diketahui, berdasarkan data Dinas Kesehatan Nganjuk sejak Bulan Januari sampai bulan Februari 2019, tercatat sebanyak 982 pasien yang dirawat akibat gigitan nyamuk demam berdarah di Kabupaten Nganjuk. Rinciannya, 160 merupakan kasus demam berdarah dengue (DBD), 811 kasus demam dengue (DD), dan 11 adalah kasus syndrome shock dengue (SSD).

Sementara itu, dalam kegiatan PSN di Kecamatan Pace, Ketua Tim Penggerak PKK Nganjuk Yuni Rahman Hidhayat, mendatangi satu persatu rumah warga yang ada di Desa Banaran dan Desa Cerme. Bunda Yuni, sapaannya, mengecek langsung kondisi sumur, bak mandi, dan tempat penampungan air lainnya, yang rentan menjadi tempat berkembangbiaknya jentik nyamuk aedes aegypti.

Nyamuk ini diketahui sebagai biang penyakit demam berdarah, yang kerap muncul pada musim hujan seperti saat ini. Istri Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat ini tampak didampingi Kepala Dinas Kesehatan Nganjuk Achmad Noeroel Cholis, pejabat pemerintah kecamatan dan desa, kader PKK dan petugas juru pemantau jentik (jumantik).

Dari hasil pengecekan di lapangan tersebut, wanita yang juga dikenal dengan nama Yuni Sophia ini menemukan contoh satu kasus warga yang positif demam berdarah, di Desa Cerme. Itu artinya, program PSN perlu lebih digiatkan lagi dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari Dinas Kesehatan sampai di level rumah tangga.

Bunda Yuni menekankan, cara paling efektif untuk menekan kasus DBD adalah dengan menumbuhkan kesadaran masyarakat itu sendiri.

Cara instan seperti fogging terbukti tidak menyelesaikan masalah secara tuntas. PSN yang efektif, menurut Bunda Yuni antara lain dengan melakukan 3 M (menutup, menguras, dan mengubur) di tempat-tempat rawan jentik, hingga cara inovatif seperti memelihara ikan hias pemangsa jentik nyamuk, di kolam dan bak penampungan air. (adv/humas pemkab)

Reporter : Andik Sukaca

Editor : Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date