Pengawasan Materi Buku Ajar Dilakukan Mulai Tenaga Pengajar

Kediri, koranmemo.com –– Pengawasan terhadap materi buku ajar untuk siswa terus dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Kediri.   Hal ini untuk menghindari adanya buku ajar yang mencantumkan materi yang tidak sesuai kurikulum atau yang lebih parah berisi hal-hal berbau radikal atau sara.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Kediri, Siswanto mengatakan, untuk mengawasi materi buku ajar, baik jenjang SD maupun SMP sederajat, pihaknya melakukan evaluasi secara berjenjang.  Mulai guru hingga pengawas satuan pendidikan (PSP) di Kota Kediri.  “Jika ada yang tidak pas, segera kita benahi sebelum diberikan kepada para siswa,” ujarnya.Untuk petugas PSP SD, ada 12 petugas yang bertugas di sekolah-sekolah sesuai wilayah kerjanya. Setiap PSP, akan melaporkan ke koordinator pengawas yang langsung melakukan evaluasi. Jika diperlukan, petugas PSP juga dipanggil untuk melakukan pembahasan mengenai temuan mereka.

Jika ada materi yang tidak sesuai dengan kaidah pembelajaran yang semestinya, Siswanto mengimbau supaya guru segera melaporkan temuan tersebut. Guru bisa melakukan koordinasi dengan guru lain, karena ada Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sebagai wadah saling bertukar informasi.

Tidak hanya itu, lanjutnya, jika dirasa sudah terlalu keluar dari jalur materi, bahkan mengandung unsur SARA, maka pihak Disdik akan melakukan koordinasi dengan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP). Guru juga diimbau lebih memperhatikan hal-hal yang sepele, misal penulisan kata-kata penting yang keliru.

“Guru tidak boleh statis, harus dinamis. Selain mudah menyesuaikan diri dengan materi baru, guru juga harus mampu menelaah materi pembelajaran. Jangan sampai, materi yang salah tetap diberikan kepada siswa tanpa ada perbaikan terlebih dahulu,” jelasnya.

Pengawasan ini, menurutnya, tidak hanya dilakukan untuk materi pelajaran saja, namun juga termasuk kinerja guru kemampuan siswa, dan yang terpenting mengavaluasi soal-soal ujian. Seperti soal Ujian Nasioal Berbasis Komputer (UNBK) maupun Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN). Dengan harapan, siswa dapat mengerjakan soal dengan baik. “Bukan mengurangi beban soal, tapi mengoptimalkan pemahaman guru dan siswa,” pungkasnya.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu
Editor :    Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date