Pembangunan Pasar Pon Trenggalek Butuh Proses 

Trenggalek, Koranmemo.com – Pembangunan Pasar Pon Trenggalek pasca terbakar pada 25 Agustus 2018 dinanti para pedagang. Mereka berharap ladang mengais rezeki ratusan pedagang itu bisa kembali difungsikan. Namun untuk mewujudkan itu butuh proses panjang. Sebab bangunan saat ini mengusung konsep green building atau bangunan gedung hijau. Pasar Pon berubah wajah menjadi pasar modern.

Meskipun telah berjalan lebih dari setahun pasca terbakar, bekas bangunan pasar seluas 1,2 hektare masih rata tanah. Hanya tersisa beberapa bangunan utuh di sisi timur, yang nantinya bakal segera dibongkar untuk area pengembangan pasar. Sementara lebih dari 471 pedagang yang terdata memiliki aset sementara waktu direlokasi di area terminal mobil penumpang umum (MPU).Pedagang lainnya yang tidak masuk pendataan karena tidak bisa menunjukkan bukti sewa di kompleks pasar hanya bisa meratapi nasib alias pasrah. Mayoritas pedagang yang tidak terdata adalah pedagang lapak atau tidak menyewa aset. “Kami juga sudah sosialisasikan kepada pedagang melalui paguyuban,” kata Plt Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan (Komindag), Yudi Sunarko.

Untuk membangun pasar tersebut, butuh proses yang harus dilalui mulai konsep perencanaan bangunan hingga realisasi konstruksi bangunan. Pemkab Trenggalek menargetkan bangunan itu bisa ditempati pada 2020 mendatang. “Saat ini sudah proses tender. Namun pada saat bersamaan, kami juga tengah memperbaiki desain bangunan gedung hijau tingkat pratama,” jelasnya.

Pemkab optimis konstruksi fisik dapat dilakukan pada Oktober mendatang, meskipun banyak evaluasi yang tengah dikerjakan secara maraton. Evaluasi ini adalah melengkapi syarat bangunan gedung hijau yang ramah lingkungan. “Mudah-mudahan Oktober ini bisa peletakan batu pertama. Nanti dengan sistem multiyears tahun 2019 konstruksi fisik, tahun 2020 kami optimis sudah bisa ditempati,” jelasnya.

Pekerjaan Rumah (PR) Pemkab lainnya adalah menata kembali pedagang sesuai dengan jenis dagangannya. Sebab pasar yang dibangun dengan anggaran senilai Rp 82,9 miliar ini berbeda dengan pasar tradisional. “Kami mulai sosialisasi, pendataan ulang, termasuk pengelolaan pasar yang baru nanti. Karena pengelolaan beda dengan yang konvensional,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetiya
Editor Achmad Saichu
Follow Untuk Berita Up to Date