Pelangi Kehidupan

Judul Buku        : Padang Bulan

Penulis Buku     : Andrea Hirata

Tahun Terbit     : 2010

Kota Terbit         : Jakarta

Tebal Halaman : 309 halaman

Tak seorangpun yang tahu, apa yang akan terjadi sedetik kemudian, semenit kemudian, sejam kemudian, hari, bulan, bahkan tahun-tahun yang akan datang. Andrea Hirata, nama yang tak asing bukan? Benar, salah seorang penulis novel Laskar Pelangi yang pernah mewarnai Indonesia dalam sajian cerita berlatarkan pendidikan di tanah Belitong. Kini Andrea Hirata hadir dengan novel dwilogi berupa Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas. Novel Padang Bulan ini adalah novel pertama dari dwilogi ini begitu memperlihatkan  kekuatan-kekuatan terbesar yang tersembunyi dalam diri manusia. Hal ini membuat pembaca tak sabar untuk segera merampungkan novel ini.

Sebelum masuk ke bagian isi, perlu diketahui bahwasannya dalam novel ini menceritakan berbagai sosial budaya, watak manusia yang penuh kejutan, sifat-sifat  unik sebuah komunitas, pribadi, dan cinta. Ditulis dengan cara membuka pintu-pintu baru bagi para pembaca untuk melihat budaya, diri sendiri, dan memahami cinta dengan cara yang tak biasa. Ide tulisan dengan hasrat bereksperimen yang kuat serta kemampuan menyeimbangkan mutu dan penerimaan yang luas dari masyarakat adalah daya tarik sekaligus misteri terbesar bagi Andrea Hirata.

Di bagian  pertama novel Padang Bulan ini masih di latar tanah Belitong, diceritakan perjalanan hidup Enong. Sosok Enong, gadis cerdas berusia 14 tahun yang begitu menggemari Bahasa Inggris terlahir dari keluarga bahagia Zamzami dan Syalimah. Enong si sulung dari 5 bersaudara mempunyai tekad yang kuat untuk bekerja setelah ayahnya meninggal akibat kecelakaan di lokasi tambang.

Demi menghidupi ibu dan adik-adiknya. Enong pun rela berhenti sekolah 4 bulan sebelum kelulusan SD, lantaran tak ingin adik-adiknya putus sekolah. Hanya kamus Bahasa Inggris satu miliar kata peninggalan ayahnya yang membuat Enong yakin untuk menggenggam harapannya.

Syalimah sang ibu terpaksa merelakan anaknya yang belum tamat SD pergi ke Tanjong Pandan. Bermacam-macam lowongan pekerjaan telah dicobanya. Namun tak satupun yang dapat menerima Enong bekerja lantaran tubuh yang kecil dan wajah yang tak menarik.

Akhirnya Enong memutuskan kembali ke kampung halaman dan bekerja sebagai pendulang timah.  Di usia tak kurang dari 14 tahun Enong menjadi perempuan penambang timah pertama dalam sejarah penambangan timah. Di tengah kesibukannya sebagai pendulang timah, Enong tak pernah terhenti dari mimpinya sebagai orang yang mahir berbahasa Inggris.

Pada bagian berikutnya, Andrea mengisahkan tokoh unik Detektif M. Nur. Detektif ini seumuran dengan tokoh ikal. Ia memiliki badan yang kecil, kulit hitam, rambut keriting kecil-kecil. Detektif ini menjadi penghibur dalam novel ini. Tingkahnya yang lucu pada saat mengungkap kasus mampu membuat pembacanya tersenyum geli. Terlebih ketika ide-idenya membantu tokoh Ikal dalam menaklukkan hati A Ling dan menyingkirkan tokoh Zinar yang telah dianggap merebut A Ling dari sisi Ikal.

Masih ingatkah kalian dengan sosok Ikal dalam cerita Laskar Pelangi? Ya sosok lelaki Belitong yang baru mengenal cinta, dan menambatkan cinta pertama kalinya pada A Ling gadis Tionghoa berkeyakinan Konghucu.

Perjuangan cinta yang terkesan na’if dan konyol dilakukan tokoh Ikal untuk A Ling. Dimulai dari perjuangan Ikal untuk mempersiapkan hari ulang tahun A Ling dengan mendatangkan beribu-ribu  punai di pekarangan rumahnya dengan bantuan seekor burung pekatik yang dipinjamnya dari seorang pemburu. Ide meminjam pekatik  ini datang dari Detektif M. Noor. Perayaan ulang tahun A Ling pun menjadi terasa spesial. Ikal merasa senang karena dapat memberikan kebahagiaan untuk A Ling.

“Bagiku, seseorang yang menunggu hari ulang tahun tak ubahnya ia menempatkan diri pada satu titik waktu di depannya, dan ia berdiri di sana menunggu waktu menyusulnya dan semua itu, burung punai itu, ulang tahun itu, memberiku sebuah inspirasi”.

Kisah selanjutnya yang tergelar dalam novel ini adalah kabar bahwa A Ling akan menikah dengan seorang Tionghoa yang bernama Zinar. Dia adalah pemuda yang tampan pemilik toko di Tanjong Pandan. Kabar tersebut tentu membuat tokoh Ikal sakit hati dan berusaha membalaskan sakit hatinya pada Zinar yang telah merebut hati A Ling.

Dengan bantuan Detektif M. Noor dan Jose Rizal-burung merpati milik Detektif M.Noor, Ikal pun berjanji untuk membalas sakit hatinya pada Zinar. Berbagai perlombaan yang ditunggu dalam peringatan hari tujuh belasan pun sengaja diseting sehingga Ikal dapat langsung berhadapan dengan Zinar.

Namun sayang, berbagai perlombaan  mulai catur, tenis meja, bahkan sepak bola, Ikal tak mampu mengalahkan Zinar. Kisah kekalahan-kekalahan yang dialami Ikal dikemas dengan bahasa yang mampu membuat pembaca tersenyum geli melihat kekonyolan Ikal dalam memperjuangkan cintanya. Termasuk ketika Ikal berusaha untuk menambah tinggi badannya empat senti meter saja. Bagian ini adalah bagian yang paling lucu dan kocak dari novel ini.

Setelah peristiwa kekalahan yang dialami Ikal, ia pun memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Berbekal ijazah luar negeri yang dimilikinya, ia berharap mendapatkan pekerjaan yang layak di Jakarta dan meninggalkan kenangannya tentang A Ling di kampung. Sehari sebelum keberangkatan Ikal, A Ling datang ke rumah Ikal dengan wajah yang sedih karena Ikal tak mengabarinya tentang keberangkatannya ke Jakarta.

A Ling pun menjelaskan kepada Ikal mengapa dia harus menghilang dan menjelaskan juga tentang siapa Zinar. Lega sekali hati Ikal karena ternyata Zinar bukanlah tunangan A Ling. Ikal dan keluarganya pun diundang dalam pesta pernikahan Zinar. Dalam pesta itu Ikal memberikan puisi yang pernah ditulisnya untuk A Ling sewaktu SD dulu. Puisi itu berjudul “Ada Komidi Putar di Padang Bulan”. Puisi ini mampu membuat A Ling tersenyum dan matanya berkaca-kaca.

Di dalam novel ini terlibat juga tokoh lain yang turut mendukung cerita, seperti tokoh Nocha Stronovsky, sahabat Ikal semasa kuliah di Perancis dulu yang mengajarkannya  catur saat pertandingan melawan Zinar.

Tokoh  Bu Indri, guru bahasa Inggris di tempat kursus Enong yang diam-diam mengagumi Ikal karena kepandaiannya membuat puisi. Selain itu ada juga tokoh Paman dan Bibi Ikal  yang memiliki warung kopi tempat Ikal bekerja, tokoh Mualim Syahbana yang membantu pelayaran Ikal menuju Jakarta. Tokoh Ibu Ikal yang dalam novel ini lebih menginginkan Ikal untuk menjadi pegawai pemerintah, pakai baju dinas yang banyak lambang di pundaknya, dan dapat pansiun. Hanya sayang, tokoh ayah tidak banyak terlibat dalam novel ini. Ayah Ikal digambarkan memiliki karakter pendiam, sakit-sakitan karena memikirkan Ikal, seperti dalam novel sebelumnya bahwa ayah Ikal tidak menyetujui hubungan Ikal dengan A Ling.

Kisah yang terjadi dalam novel ini tidak hanya menceritakan kisah perjuangan cinta Ikal terhadap A Ling. Namun, kisah Enong yang menyentuh turut membuat cerita ini memiliki daya tarik. Walaupun dalam novel ini berakhir bahagia, namun pembaca tetap merasa penasaran dengan bagaimana kelanjutan hubungan A Ling dan Ikal pada akhirnya?Apakah ayah Ikal akhirnya merestui hubungan mereka? Bagaimana nasib Enong berikutnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sepertinya akan terjawab jika kita membaca novel Dwilogi Padang Bulan berikutnya yaitu “Cinta di Dalam Gelas”.

Secara keseluruhan novel ini cukup menarik karena  dilengkapi dengan komedi-komedi yang membuat kita tertawa  dan terhibur. Komedi yang disampaikan Andrea Hirata mampu membuat pembaca geli melihat kekonyolan yang dilakukan tokoh Ikal. Namun, bagi pembaca awam akan kesulitan memahami cerita  dan mungkin terkecoh di awal karena mengira tokoh utama yang berperan dalam novel ini adalah Enong. Apalagi Andrea  menggunakan sudut pandang sebagai pencerita atau orang ketiga dan sudut pandang orang kesatu (aku) secara bergantian di awal cerita.

Nama:   Hafidhatul Furqoniyah Jauhari

(Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang)

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.