Pelajar Dominasi  Pelanggaran Lalu Lintas di Kota Kediri

Kediri, koranmemo.com – Petugas Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Kediri Kota mencatat, pelanggaran lalu lintas yang terjadi di Kota Kediri didominasi oleh pelajar. Untuk Juli tahun 2019, petugaspetugasu mencatat 1.997 pelajar yang melanggar peraturan lalu lintas, dari 4.987 jumlah pelanggaran.

Kasatlantas Polres Kediri Kota, AKP Ahmad Risky Fardian Caropeboka menjelaskan, jumlah pelajar yang melanggar peraturan lalu lintas di Kota Kediri cukup tinggi. Pelanggaran yang dilakukan pelajar pun bermacam-macam, mulai tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas, tidak menggunakan helem, berboncengan sampai tiga orang, dan yang paling banyak adalah berkendara tanpa memiliki SIM.

Padahal, pelanggaran seperti ini dapat berakibat fatal bagi pelajar, yang merupakan generasi penerus bangsa. “Dikhawatirkan, mereka yang melanggar peraturan lalu lintas, bisa mengakibatkan kecelakaan lalu lintas. Dari data yang masuk, sebagian besar yang mengalami kecelakan adalah pelajar dan tidak sedikit dari mereka sampai meninggal dunia,” tegasnya, Kamis (1/8).

Jika dibandingkan dengan bulan yang lain, lanjutnya, di Januari ada 1.706 pelanggaran. Dari jumlah tersebut, sebanyak 682 pelanggar adalah pelajar, begitu pula Februari dengan jumlah pelanggar pelajar mencapai 540 dari 1.320 pelanggaran. Pada Maret, palanggar pelajar sebanyak 523 dari 1.265 kasus pelanggaran. Untuk April, dari 831 kasus pelanggaran tercatat 312 pelanggar adalah pelajar, dan Mei sebanyak 355 pelanggar pelajar dari 921 kasus pelanggaran lalu lintas.

 “Dari data tersebut, dapat diketahui bahwa kewaspadaan masyarakat terutama pelajar masih kurang. Padahal penyebab kematian tertinggi di Indonesia nomor tiga setelah jantung dan kanker adalah kecelakaan lalu lintas. Di dunia, kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab kematian yang perlu diwaspadai, karena berada di nomor lima,” tuturnya.

Bagi pelajar yang belum mempunyai SIM, sambungnya, seharusnya lebih bersabar untuk tidak menggunakan kendaraan. Karena, pelajar masih belum mapan atau mampu untuk mengendalikan emosi dan belum mampu berpikir untuk mengambil keputusan saat berkendara.

Menurut Risky, untuk menekan angka pelanggaran yang dapat menyebabkan kecelakaan lalu lintas, petugas melakukan pemeriksaan kendaraan. Pemeriksaan tidak hanya fokus pada kondisi kendaraan, tapi memeriksa kelengkapan surat dan yang pasti SIM. Jangan sampai, masyarakat khususnya pelajar yang belum mempunyai SIM, nekat untuk berkendara.

Risky menjelaskan, untuk memperoleh SIM, calon pengendara benar-benar diuji kemampuan berkendaranya baik secara teori maupun praktik. Dengan demikian, pelajar yang belum mampu lulus dalam ujian pembuatan SIM, memang belum siap untuk berkendara di jalan raya. Karena, risiko yang ada di jalan raya cukup tinggi.

Untuk menekan angka pelanggaran maupun kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar, perlu keterlibatan orangtua dan guru. “Orangtua harus memperhatikan kesiapan anaknya dan guru juga mengingatkan bahayanya berkendara sebelum waktunya. Instansi maupun pihak terkait juga mempunyai andil yang besar untuk menekan angka pelanggaran lalu lintas. Jangan sampai, pelajar menjadi korban di jalan raya,” ujarnya.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu
Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date