Pekerja PT. CGL Mogok, Tuntut Status Karyawan Tetap

Madiun, koranmemo.com – Sejumlah karyawan PT. Cipta Gagas Lestari (PT. CGL) melakukan aksi mogok kerja selama sepekan, mulai Kamis (14/3) hingga Kamis (21/3). Mereka menuntut diangkat menjadi karyawan tetap.

Pengurus Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kota Madiun, Wahyu Kurniawan mengatakan, ada tiga alasan aksi mogok.

Yang pertama menurutnya karena PT. CGL dianggap tidak membayar upah lembur dan tidak menjalankan jam kerja sesuai ketentuan yang berlaku.

Kedua, PT. CGL dinilai tidak mentaati pasal 59 UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan dengan mengangkat karyawan kontrak atau PKWT menjadi karyawan tetap atau PKWTT.

Yang ketiga, katanya, karena PT. CGL tidak mau mempekerjakan kembali 11 karyawan yang sebelumnya di PHK sepihak oleh perusahaan. “Harapannya ya minta SK pengangkatan PKWTT (pegawai tetap,red) karena sudah ada yang bekerja 10 sampai 11 tahun nggak ada kelanjutannya,” katanya, Kamis (14/3).

Perwakilan korban PHK PT. CGL, Armada mengaku masih memiliki kontrak dengan perusahaan. Namun secara tiba-tiba diputus kontrak oleh perusahaan. Tidak ada alasan jelas dari perusahaan terkait PHK tersebut.

“Ya mintanya semua teman-teman yang di-PHK dipekerjakan kembali. Karena saya tulang punggung keluarga. Saya kerja juga sudah 9 tahun, ada yang 11 tahun juga tapi nggak diangkat karyawan tetap dan SK karyawan tidak dikeluarkan sama pihak perusahaan. Janjinya mau dikeluarkan tapi sampai sekarang belum,” katanya.

Terpisah Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Madiun, Suyoto menjelaskan, aksi mogok kerja yang dilakukan puluhan karyawan PT. CGL sebelumnya sudah ada pemberitahuan. Hanya saja dari tiga poin tuntutan yang disampaikan karyawan, Disnaker akan fokus terhadap kasus PHK yang dilakukan perusahaan.

Sementara dua poin lainnya menurutnya, merupakan kewenangan pengawas provinsi.
“Kalau kasus PHK itu kami baru proses klarifikasi, belum kami lakukan mediasi. Kami baru memanggil kedua belah pihak satu per satu. Namun ketika kami akan mengadakan mediasi, mereka sudah mogok kerja. Harapannya ya ini bisa dirundingkan antara kedua belah pihak baik dari SP maupun perusahaan untuk mengambil jalan tengah,” ucapnya.

Sementara itu General Manager PT. CGL, Tekno Sudardji dalam keterangan tertulisnya menyatakan, jika karyawan tidak masuk kerja selama tujuh hari berturut-turut mulai 14-21 Maret, dan telah dipanggil oleh pengusaha dua kali secara tertulis. Maka sesuai pasal 6 Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.232/MEN/2003, karyawan yang bersangkutan akan didiskualifikasikan atau dianggap mengundurkan diri dari perusahaan.

Disisi lain berdasarkan pasal 93 ayat (1) UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan menyebutkan, apabila karyawan tidak melakukan pekerjaan, maka perusahaan tidak membayarkan upah pekerja.

Reporter M. Adi Saputra/Juremi

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date