Pastikan Harga Daging Tak Bergolak

Kediri, koranmemo.com – Harga daging di pasar menjelang Idul Fitri 1439 H dipastikan tak bergolak. Sebab suplai kebutuhan daging dinilai mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang meningkat. Untuk saat ini setiap harinya rumah pemotongan hewan (RPH) Kota Kediri mampu memotong sapi hingga 17 ekor. Jika dibandingkan sebelum Ramadan, jumlah pemotongan itu meningkat sekitar 3 hingga 5 ekor sapi.

Semeru Singgih, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Kediri mengatakan, saat ini harga daging di pasaran bertahan sekitar Rp 90 ribu hingga Rp 100 ribu setiap kilogram. Harga itu dipastikan tak akan mengalami kenaikan seiring meningkatnya kebutuhan konsumsi daging. “Masih wajar itu. Tergantung kualitas dagingnya yang membuat adanya selisih harga. Namun kami yakin harga daging akan tetap stabil karena suplai daging tercukupi,” jelasnya.

Dia mengatakan terdapat peningkatan kebutuhan konsumsi daging yang signifikan. Rata-rata setiap harinya RPH Kota Kediri menyembelih sapi sebanyak 15 hingga 17 ekor. Padahal di awal puasa, Semeru menyebut pemotongan sapi hanya berkisar antara 4 hingga 10 ekor sapi. “Kebutuhan daging cukup tinggi. Oleh sebab itu, kami memastikan suplai daging tercukupi, agar harga tidak bergolak. Saat ini saja bisa 17 ekor sapi yang disembelih di RPH,” kata Semeru.

Puncak meningkatnya kebutuhan daging sapi, lanjut Semeru biasanya terjadi pada H-2 lebaran. Berkaca pada tahun sebelumnya, Semeru menyebut pemotongan sapi meningkat hingga dua kali lipat. “Misal sehari 15 ekor, di waktu itu bisa mencapai kurang lebihnya 30 ekor. Karena biasanya kalau malam takbir, para pedagang daging dan lain sebagainya sudah libur. Jadi untuk stok seperti itu,” jelasnya.

Meningkatnya jumlah kebutuhan daging membuat Semeru juga memperketat pengawasan. Peningkatan pengawasan itu dilakukan untuk memastikan jika daging yang dihasilkan benar-benar memiliki kualitas dan terhindar dari penyakit. “Tetap dilakukan pemeriksaan antemortem, meliputi reproduksi dan kesehatannya serta pemeriksaan postmortem yang meliputi  dagingnya, hati, dan lain sebagainya. Jadi soal kualitas harus menjadi prioritas,” kata Semeru.

Sebab, menurut Semeru terdapat beberapa ketentuan sapi yang boleh disembelih. Diantaranya tidak masuk kategori usia produktif atau sudah pernah melahirkan sebanyak 5 kali, mandul, sapi mabuk atau keracunan akibat makanan, dan sudah cukup dewasa. “Ada program Sapi Induk Wajib Bunting (SIWAB), jadi memang ada ketentuannya. Dulu ada sekitar 2 hingga 3 sapi yang ditolak karena memang tidak layak untuk disembelih. Namun sekarang masyarakat sudah mengerti, jadi hampir tidak ada yang ditolak,” pungkasnya. (ase/pemkotkediri)

Reporter : Angga Prasetya

Editor : Della Cahaya

Follow Untuk Berita Up to Date