Pandergoen Intelijen Polisi di Nganjuk (5): Dipenjara di Kertosono, Pulang Jalan Kaki

Nganjuk, koranmemo.com – Setelah dilepaskan oleh tentara Belanda dari penjara Kediri, Pandergoen alias Soeratman alias Admodimoeljo, bukannya kapok. Akan tetapi dia semakin tercambuk semangatnya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda.

Dengan ilmu intelijen kepolisian yang dimilikinya, Pandergoen selalu menginformasikan kepada pejuang tentang rencana-rencana serdadu Belanda.  Dengan informasi tersebut, TNI dapat melakukan sabotase dan menggagalkan rencana Belanda untuk mengejar para pejuang, baik TNI maupun polisi.

Bahkan, banyak serdadu Belanda yang tewas ketika melakukan pengejaran terhadap para pejuang. Geram atas ulah Pandergoen yang selalu menggagalkan rencananya, tentara Belanda kemudian kembali melakukan penangkapan terhadap Pandergoen.

“Belanda datang ke Desa Baleturi Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk membawa anjing pelacak hingga Kakek Pandergoen dapat ditangkap dan dipenjara di Kertosono,” papar Witanto, cucu Parndergoen dari Gundari (anak ke dua Pandergoen).

Menurut Witanto, kakeknya dipenjara beberapa bulan lamanya, kisaran tahun 1948 sampai tahun 1949. Dengan dipenjaranya intel polisi keturunan Belanda ini, praktis penjajah dapat menguasai Kabupaten Nganjuk. Sebab, salah satu mata-mata Republik Indonesia ini tak bisa berbuat banyak saat dipenjara.

“Di penjara Kertosono ini, Kakek Pandergoen mengalami siksaan yang amat kejam. Badan beliau sampai kurus karena hanya diberi makan sehari satu kali oleh Belanda. Ketika dibebaskan, beliau jalan kaki dari Kertosono ke Baleturi,” ungkap Witanto.

Hingga akhirnya, pada 14 April 1949 sekitar pukul 20.00 WIB, Belanda berhasil menduduki kota Nganjuk. Situasi ini memaksa Iptu A. Wiratno Puspoatmojo, saat menjabat Kepala Polisi Kabupaten Nganjuk (sebutan sekarang kapolres) untuk mengambil tindakan cepat.

Kapolres Wiratno memerintahkan anggotanya untuk melaksanakan patroli dan penyisiran ke daerah pinggiran untuk mempertahankan wilayah serta melindungi masyarakat Nganjuk.

Selain itu juga untuk mencegah agar pasukan atau tentara Belanda yang berusaha memasuki wilayah Nganjuk lewat perbatasan tidak bertambah banyak.

Sedikitnya ada dua regu yang diperintah oleh Kepala Polisi Kabupaten Nganjuk untuk patroli. Satu regu bergerak ke arah sektor selatan, berkedudukan di Desa Nglaban Kecamatan Loceret, dipimpin langsung oleh Kepala Polisi Kabupaten Nganjuk Iptu. A. Wiratno Puspoatmojo.

Satunya lagi, di sektor utara dipimpin Pembantu Inspektur Polisi II Pagoe Koesnan. Rombongan patroli sektor utara dipimpin Agen Polisi I Soekardi, beranggotakan 17 polisi istimewa.

Rombongan sektor utara bermarkas di Dukuh Turi, Desa Ngadiboyo, di sebuah Loji (sebutan bangunan Belanda ), yakni perumahan milik Perhutani Nganjuk. Akhirnya terjadi pertempuran sengit di Dusun Turi Desa Ngadiboyo Kecamatan Rejoso.

Pertempuran para pejuang polisi istimewa melawan tentara Belanda, 15 April 1949 tersebut dikenang sebagai “Tragedi Ngadiboyo”. Sedikitnya 12 pejuang polisi gugur, 3 luka berat, dan dua selamat.

Tiga korban luka berat, yakni Lasimin, Sukidjan alias Oeripno, dan Suparlan. Sedangkan dua pejuang yang berhasil lolos, yakni Agen Polisi II Ramelan dan Agen Polisi II Suripto. Ramelan kabur dari kepungan tentara Belanda dengan membobol pintu belakang Loji.

Sementara, 12 pejuang Polri gugur, yaitu; (1) Agen Pol Kelas II Bagoes, (2) Agen Pol Kelas II Diran alias Sogol, (3) Agen Pol Kelas II Laiman, (4) Agen Pol Kelas II Soekatmo, (5) Agen Pol Kelas II Moestadjab, (6) Agen Pol Kelas II Soemargo, (7) Agen Pol Kelas II Sardjono, Agen Pol Kelas II Saimun, (8) Agen Pol Kelas II Samad, (9) Agen Pol Kelas II Masidi, (10), (11) Agen Pol Kelas II Simin, dan(12) Agen Pol Kelas II Musadi.

Dari perjuangan para polisi istimewa ini, akhirnya nama salah satu pejuang, yakni Agen Pol Kelas II Moestadjab, namanya diabadikan sebagai rumah sakit milik Polri, yaitu Rumah Sakit Bhayangkara Moestadjab Nganjuk. (Bersambung)

Penulis : Muji Hartono

Editor   : Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date