Pandergoen Intelijen Polisi di Nganjuk (1), Anak Demang Keturunan Belanda

Nganjuk, koranmemo.com – Tak banyak orang tahu jika Pandergoen alias Soeratman alias Admodimoeljo, anak Vandergoen pria Belanda bekas tentara KNIL yang memilih berpihak pada Indonesia dengan menjadi demang di Desa Baleturi Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk Jawa Timur ini, kelak akan menyulitkan serdadu Belanda.

Lahir di Nganjuk pada tahun 1909, Pandergoen kecil terkenal sangat pemberani dan bandel. Dia sering dihukum cambuk oleh Demang Vandergoen sang ayah, jika berbuat kesalahan. Kedisiplinan yang diajarkan ayahandanya ini kelak dijadikan bekal oleh Pandergoen saat menjadi seorang intelijen polisi.

“Sesuai beslit nomor 9331/43 tahun 1929 yang masih kami simpan, Kakek Pandergoen mulai menjadi polisi di Semarang pada 30 Maret 2019 dengan pangkat agen polisi dua nomor 667 register 148700, bertugas di bagian intelijen,” kata Witanto (56) cucu Pandergoen.

Dijelaskan, setelah mengikuti pendidikan polisi kolonial Belanda, Pandergoen ditempatkan di Ambarawa dengan gaji 25 golden. “Kakek Pandergoen bercerita kepada saya jika tahun 1930, beliau ditugaskan menjadi intelijen di Ambarawa dan sekitarnya dengan gaji 25 golden,” urainya.

Waktu itu, Agen Polisi (AP) II Pandergoen harus tunduk dan patuh pada aturan pemerintah kolonial Belanda, bahwa seluruh polisi bekerja dengan sistim kontrak. “Belanda menerapkan sistim itu karena anggaran difokuskan untuk dana perang melawan pemberontak pribumi,” beber Witanto.

Selang dua tahun kemudian, yakni tahun 1932, AP II Pandergoen dipindahtugaskan di wilayah Semarang. Di sini, dia menikah dengan seorang pribumi. Usai menikah, Pandergoen berkeinginan pindah tugas di Kediri, yang berdekatan dengan rumahnya.

“Menurut Kakek Pandergoen, beliau saat itu mengajukan surat pindah tugas, namun tidak diberi izin. Akhirnya beliau tetap dinas di Semarang hingga Jepang menduduki Indonesia pada 1942,” jelas Witanto. (Bersambung)

Penulis : Muji Hartono

Editor   : Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date