Molor 13 Persen, Komisi III Sebut Proyek Gedung DPRD Jilid II Bahaya

Madiun, koranmemo.com – Progres pekerjaan lanjutan proyek Gedung Baru DPRD Kota Madiun Jilid II tak menunjukkan perkembangan yang baik. Setelah pada minggu ke-9 lalu tercatat progres pekerjaan mengalami minus 9 persen. Kini di dalam minggu ke-10 justru keterlambatan mencapai 13 persen lebih.

Capaian progres yang tak memuaskan ini terbukti saat rombongan Komisi III DPRD Kota Madiun melakukan inspeksi mendadak (sidak) dilokasi proyek yang terletak di samping Kantor Kecamatan Taman, Kota Madiun tersebut, Selasa (2/10).

“Laporan dari PA (pengguna anggaran,red) dan MK (manajemen kontruksi,red), progres baru 14 persen. Harusnya sesuai schedule itu 27 persen. Jadi saya melihat keterlambatan ini sudah sangat mengkhawatirkan. Kenapa saya bilang begitu, karena kalau progres minus diatas 10 persel, itu sudah kami anggap bahaya,” kata anggota Komisi III DPRD Kota Madiun, Marsidi Rosyid disela-sela sidak, Selasa (2/10).

Marsidi dan anggota dewan lainnya pesimis proyek senilai Rp 19,3 miliar ini bakal rampung pada 23 Desember mendatang. Mengingat pengalaman pada proyek jilid I dulu, pelaksana dan MK juga berjanji pada dewan untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.

Namun kenyataanya, setiap minggu selalu mengalami keterlambatan progres. Pun, sampai habis masa kontrak, pekerjaan juga urung rampung. Bahkan lebih parahnya lagi, penambahan waktu pengerjaan selama 50 hari, juga tidak dapat diselesaikan.“Bisa jadi kami pesimis. Ini berdasarkan pengalaman proyek yang pertama kan juga begitu,” ujarnya.

Keterlambatan pekerjaan, lanjut Marsidi, disebabkan karena keterlambatan order material. Namun itu tidak boleh dijadikan sebagai alasan. “Makanya saya tekankan, kalau sudah begini ya by rule (sesuai aturan,red) saja,” ungkapnya.

Untuk itu, ia meminta kepada pelaksana untuk mengerjakan pekerjaan yang bobot progresnya besar. Sehingga, tidak mengalami keterlambatan progres yang cukup signifikan.

Sementara itu, Pelaksana Utama PT Ris Putra Delta (PT RPD), Ahmad Ismangil mengaku, saat ini pekerjaan baru sebatas finishing gedung paripurna dan ruang-ruangan di sekitarnya.

Rekanan asal Gayung Kebonsari Surabaya ini berdalih, keterlambatan progres disebabkan karena baru melakukan order material. Salah satunya, mekanikal elekrikal, AC, trafo, kabel feeder, dan amature lampu.

“Fair aja, ini kesalahan kontraktor dalam menscedulekan material. Contoh AC itu kita progreskan di depan, sehingga menyumbang bobot keterlambatan. Saat ini kita telah berupaya untuk segera mendatangkan material-material yang memberi kontribusi bobot progres yang besar,” ujarnya.

Reporter M Adi Saputra/Juremi

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date