Mohan Kalandara, Mengawali Flashmob Tari Tradisional di Jalanan Kota Yogya

Yogya, koranmemo.comVideo tari flashmobyang dilakukan sekelompok pemuda di Jalan Malioboro, Yogyakarta, Rabu (19/6) lalu, viral di media sosial (medsos). Bukan tarian modern yang dibawakan, namun tarian tradisional bertajuk ‘Beksan Wanara’ yang dikemas senatural mungkin.  Bahkan para penarinya hanya mengenakan baju biasa layaknya turis yang berkunjung ke Jalan Malioboro.  Dari belasan penari itu, ada satu yang menyita perhatian para pengguna medsos.  Dia adalah Mohan Kalandara, penari termuda di kumpulan tersebut.

Momo, panggilan akrabnya, saat ini masih berusia 12 tahun dan baru diterima di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Stella Duce II yang berada di Suryodiningratan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Sebelumya, Momo menimba ilmu di SD Tumbuh II yang berada di daerah Pakuncen, Wirobrajan.

Momo mengatakan, persiapan flashmob terbilang singkat.  Hanya satu hari sebelum pengambilan gambar. “Kalau grogi sih tidak, karena sudah terbiasa latihan menari. Tapi untuk latihan flashmob hanya sehari.  Mulai Selasa (18/6)  sore sampai malam. Kesulitannya mungkin menyesuaikan gerakan yang belum pernah dibawakan sebelumnya,” tutur Momo, Selasa (25/6).

Tarian yang dilakukan di tengah-tengah aktivitas masyarakat itu bermula dari satu penari, yakni Momo.  Momo yang hari itu mengenakan kaos warna merah muda membawakan tari Beksan Wanara seorang diri di bawah tatapan mata banyak orang, termasuk Sri Sultan Hamengku Buwono X yang hadir di tengah – tengah warga.  Seiring berjalannya iringan musik, jumlah penari terus bertambah.  Para penari itu adalah mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.  Dengan berlatarkan langit senja yang mulai beranjak malam, puluhan kamera terus mengikuti setiap gerakan para penari.

Momo menceritakan,flashmob tersebut merupakan ide dari Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro, tidak lain adalah menantu dari Sultan Hamengku Buwono X.  Tarian tersebut juga menjadi salah satu persiapan untuk kegiatan Catur Sagatra yang akan dilaksakan pada tanggal 13 Juli mendatang.

Momo, si penari cilik juga turut serta dalam kegiatan tersebut. Ia mulai mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk memberikan penampilan terbaiknya.   Dia berlatih di Sanggar Kridhamardawa yang berada di lingkungan keraton, membuat Momo merasa bangga, karena bisa menjadi bagian dari acara sakral tersebut.

‘Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’, mungkin adalah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan bakat Momo di dunia tari.  Lantip Kuswala Daya, sang ayah adalah seorang penari keraton sementara sang ibu bergabung di padepokan milik mendiang Bagong Kusudiarjo.  Lahir di tengah-tengah keluarga yang berlatar belakang sebagai penari, membuatnya ingin mencoba belajar tari tradisional. Ia mulai belajar menari saat duduk di bangku kelas IV SD.

Anak bungsu dari dua bersaudara ini, juga mempunyai jadwal latihan menari. “Latihan menari hari Senin, Rabu, dan Minggu. Kalau Senin dan Rabu, mulai pukul 19.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB, hari Minggu mulai pukul 10.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB. Ada sekitar 20 penari yang ikut latihan, usianya juga berbeda-beda,” ucap Momo.

Saat koranmemo.com bertanya alasan ketertarikannya terhadap dunia tari, Momo memberikan jawaban yang cukup unik. Menurutnya tidak ada alasan untuk melesetarikan kesenian atau budaya asli daerah. Jika bukan generasi muda yang menjaga kelestarian budaya daerah, lantas siapa lagi?

“Kita harus percaya diri dengan budaya kita, harus percaya dengan kemampuan yang kita miliki, tidak usah takut dan malu. Melestarikan budaya itu penting, supaya tidak tergerus dengan kemajuan zaman, karena budaya daerah adalah warisan dari para leluhur yang patut dijaga. Harus bangga mempunyai warisan bdaya daerah, tidak semua daerah mempunyai budaya seperti ini,” pungkas Momo.

Reporter : Okpriabdhu Mahtinu

Editor : Vrian Triwidodo

Follow Untuk Berita Up to Date