Menilik Sejarah Tradisi Larung Kepala Kerbau di Dam Bagong

Trenggalek, Koranmemo.com – Tradisi larung kepala kerbau di Dam Bagong, Kelurahan Ngantru, Kecamatan/Kabupaten Trenggalek terus dilestarikan. Konon masyarakat yang tinggal di sekitar dam yang mengaliri dua kecamatan itu meyakini, jika tradisi itu ditinggalkan akan mendapat marabahaya. Adat istiadat yang dilakukan para petani itu sekaligus untuk mengenang jasa Ki Ageng Menak Sopal yang disebut sebagai pahlawan para petani.

Banyak sejarah dan versi cerita yang mengisahkan tentang Ki Ageng Menak Sopal. Meskipun sampai saat ini belum ditemukan dokumen tertulis tentang penyebaran agama islam di Kabupaten Trenggalek, namun masyarakat khususnya Kabupaten Trenggalek meyakini jika Menak Sopal adalah tokoh penyebar agama islam di Kabupaten Trenggalek.

Oleh masyarakat, Ki Ageng Menak Sopal dinilai mampu memakmurkan rakyat dengan cara membangung bendungan bagong, sehingga ceritanya masih tetap hidup di hati masyarakat Kabupaten Trenggalek dan makamnya dikeramatkan oleh warga Kabupaten Trenggalek.

“Selain wujud syukur kepada Allah SWT karena hasil panen yang melimpah, upacara adat bersih dam bagong sekaligus mengingatkan kita tentang jerih payah Ki Ageng Menak Sopal dalam membangun dam yang sampai saat ini dapat dimanfaatkan,” jelas Mukimin Santo, Ketua Panitia Penyelenggara saat dikonfirmasi usai larung kepala kerbau di dam Bagong, Jumat (3/8).

Menurutnya dengan adanya irigasi ini berdampak positif pada hasil panen masyarakat sekitar. Mukimin menyebut, dam bagong dapat mengairi sawah hingga 840 hektar di dua kecamatan yakni Kecamatan Trenggalek dan Kecamatan Pogalan. “Yang sebelumnya hanya satu kali panen dan sekarang bisa tiga kali panen. Dam ini bisa mengairi sawah hingga 840 hektar di dua kecamatan yaitu Kecamatan Pogalan dan Kecamatan Trenggalek,” imbuhnya.

Mukimin menyebut, pelemparan kepala kerbau, kulit, dan tulang itu syarat makna. Kulit adalah suatu pembungkus atau tampilan luar manusia yang menggambarkan karakter sopan santun. Kepala kerbau memiliki makna suatu pemikiran yang jernih. “Jadi istilah syirik, larinya sudah tidak kesitu. Kalau dulu-dulu dikatakan nyadran, sekarang enggak. Ini adalah upacara adat bersih dam bagong untuk memperingati jasa pahlawan pertanian, Ki Ageng Menak Sopal,” kata dia.

Sebelum disembelih, kerbau tersebut dimandikan. Setelah itu kerbau yang sudah memiliki usia cukup itu disembelih dan dagingnya dimasak untuk dibagikan kepada warga sekitar. Kepala kerbau yang akan dilarung, lanjut Mukimin, diarak terlebih dahulu sebelum akhirnya di larung di dam bagong. “Menurut cerita dulunya gajah putih, kalau sekarang diganti kepala kerbau. Dulu kepala gajah putih digunakan sebagai salah satu syarat untuk membangun dam bagong. Pasalnya menurut cerita turun temurun, pasca dibangun dam itu sering ambrol,” jelasnya.

Selain tidak melupakan nilai kesakralannya, upacara adat istiadat bersih dam bagong ini sekaligus untuk menarik daya wisatawan. Kegiatan ini dikemas dalam kultur yang lebih modern sehingga mengalami sedikit perubahan. “Generasi penerusnya. Dengan berubah sedikit-sedikit dan dikemas keislaman. Kemarin juga diadakan semakan Al-Qur’an Jantiko Mantep. Masih perdana,namun dengan pengunjung yang sangat luar biasa. Kedepan kami akan lakukan seperti itu,” pungkasnya.

Pengamatan di lokasi ratusan warga memadati sekitar area makam dan sepanjang jalan untuk melihat setiap proses upacara adat bersih dam bagong. Bahkan sebagian warga nekat turun ke sungai untuk berebut kepala kerbau yang dilempar dari atas dam. Kepala kerbau dilempar langsung oleh Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak dengan didampingi istrinya Arumi Bachsin beserta Forkopimda Kabupaten Trenggalek.

Reporter : Angga Prasetya

Editor : Della Cahaya Praditasari

Follow Untuk Berita Up to Date