Mengintip Kehidupan Suku Sasak Dusun Sade, Lombok Tengah (3)

Lombok, koranmemo.com – Pernikahan adalah hal yang paling diimpikan oleh para wanita Suku Sasak.  Jika wanita Suku Jawa atau suku lainnya menanti untuk dilamar, para wanita Suku Sasak ini berbeda. Mereka tidak mau dilamar karena  menurut mereka itu tidak sopan.  Yang mereka tunggu adalah diculik, sebelum dijadikan istri sah.

Tradisi kawin culik adalah salah satu adat istiadat Suku Sasak yang sampai saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Dusun Sade.  Tidak ada satupun pasangan suami istri di sana yang tidak menjalankan tradisi tersebut sebelum menikah.  Kalau ada pria yang serius dengan satu wanita dan ingin menikahinya, maka dia harus cepat-cepat menculiknya sebelum didahului orang lain.

Talim, salah satu pemandu wisata di sana mengatakan, tradisi kawin culik sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, ketika Dusun Sade pertama berdiri.  Hal tersebut merupakan bentuk kejantanan seorang pria yang ingin meminang seorang wanita.  Filosofinya, dengan menculik berarti sang pria sudah berani mengambil resiko besar untuk memperjuangkan cintanya kepada wanita.

Para orang tua justru akan marah besar jika sang pria datang baik-baik untuk melamar anak perempuannya.  Menurut mereka, hal tersebut tidak sopan dan merendahkan martabat seorang wanita.  “Katanya, anak perempuan itu tidak boleh diminta-minta.  Kalau memang mau menikah, ya harus diperjuangkan,” jelas Talim.

Lagipula, meskipun bagi orang awam terdengar aneh dan mengerikan, namun menurut Talim, tradisi kawin culik tersebut sangat aman dan tidak pernah menimbulkan konflik.  Sebelum menculik, si pria tentu saja sudah mendapatkan persetujuan dari si wanita.  Mereka sudah menentukan, kapan waktu yang tepat bagi si pria untuk menculik agar tidak ketahuan.  Setelah itu, sesuai dengan adat, si wanita akan disembunyikan di rumah keluarga si pria selama tiga hari.

Jika selama tiga hari si wanita tersebut tidak meminta pulang, hal tersebut menunjukkan dia  sudah siap untuk mengabdikan hidupnya sebagai seorang istri.  Kemudian si pria bisa datang ke rumah orang tua si wanita dan menyatakan akan menikahi wanita tersebut. “Dari proses penculikan sampai akhirnya siap untuk menikah, semuanya harus rahasia.  Hanya wanita dan pria itu saja yang boleh tahu,” ujar Talim.

Mengapa demikian?  Talim menjelaskan, hal itu untuk menghindarkan mereka dari godaan sebelum pernikahan.  Misal, pesaing si pria yang juga ingin menikahi si wanita bisa saja menggagalkan rencana tersebut dengan menculik si wanita terlebih dahulu.  Atau, orang tua wanita mengetahui niat tersebut dan ingin menggagalkan rencana penculikan karena tidak setuju.  “Sebelum diculik, kalau ketahuan dan orang tua wanita tidak setuju, mereka boleh menolak dan langsung menjodohkan si wanita dengan pria lain.  Hal ini pernah terjadi dan itu jadi aib bagi prianya,” tutur Talim.

Oleh sebab itu, aksi penculikan tersebut tidak akan pernah dilakukan pada siang hari.  Penculikan di sana rata-rata dilakukan di atas jam 12 malam.  Setelah kedua orang tuanya tidur, si wanita akan membuka kunci rumahnya dan menunggu si pria di dekat pintu.  Jadi begitu si pria datang, mereka berdua bisa langsung kabur ke rumah saudara si pria.

“Yang harus dicatat adalah meskipun keduanya saling mencintai dan 90 persen sudah bisa dipastikan menikah, mereka tidak boleh melakukan hubungan suami istri sampai kaki pria dibasuh dengan air sirup atau kelapa oleh keluarga wanita,” jelas Talim. (bersambung)

Editor : Della Cahaya Praditasari

Follow Untuk Berita Up to Date