Mengintip Kehidupan Suku Sasak di Dusun Sade, Lombok Tengah (2)

Lombok, koranmemo.com – Setiap daerah dan suku pasti memiliki rumah adat masing-masing.  Begitu pula dengan Suku Sasak.  Sebagai satu-satunya suku yang ada di Lombok dan memegang teguh adat istiadatnya, warga Dusun Sade masih memilih tinggal di rumah adat yang mereka sebut sebagai Bale Tani.  Lengkap dengan tradisi mengepel rumah  dengan kotoran kerbau setiap satu minggu sekali atau pada waktu-waktu tertentu.

Menelusuri jalanan Dusun Sade, para wisatawan akan melihat beberapa jenis bangunan khas Suku Sasak.  Bangunan-bangunan tersebut bentuknya hampir sama, namun memiliki fungsi yang berbeda-ada.  Yang digunakan untuk tempat tinggal adalah Bale Tani, tempat pertemuan keluarga yang disebut Berugak, tempat menenun dan memintal, tempat beribadah dan yang paling terlihat menonjol adalah tempat penyimpanan padi atau yang oleh masyarakat di sana disebut Lumbung Pare.

Kesamaan dari bangunan-bangunan di sana adalah semua dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan atapnya dari alang-alang kering.  Sementara lantainya masih berupa tanah liat yang kata Talim, pemandu wisata di sana sudah dicampur dengan abu jerami dan getah pohon.  Lantai inilah yang harus rajin dipel menggunakan kotoran kerbau oleh masyarakat Suku Sasak.

“Sebenarnya bukan dipel, tapi dioleskan.  Kalau  sudah rata, ditunggu sampai benar-benar mengering kemudian disapu dan digosok dengan batu,” jelas Talim.

Menurut Talim, kebiasaan tersebut sudah dijalankan sejak berdirinya dusun tersebut, yakni sekitar 600 tahun yang lalu.  Tidak pernah ada warga yang berani melanggar karena takut  terjadi hal buruk yang menimpa keluarga mereka.

“Masyarakat di sini percaya kotoran kerbau bisa menanggal hal-hal magis atau gaib yang ditujukan untuk mencelakai penghuni rumah.  Selain itu kotoran kerbau juga bisa mengusir serangga dan membuat lantai lebih halus dan kuat,” lanjutnya.

Talim juga mempersilakan bagi wisatawan yang ingin mencoba mengepel lantai salah satu rumah dengan kotoran kerbau.   Warga sudah menyiapkan satu rumah yang memang khusus diperuntukkan bagi wisatawan yang penasaran.  “Tidak berbau kok,” kata Talim.

Tinggi bangunan di Dusun Sade semuanya seragam.  Kata Talim, tinggi dindingnya tidak boleh lebih dari 1 meter.  Jadi bagi wisatawan yang tingginya lebih dari 1 meter, mudah bagi mereka untuk menjangkau atap dari bangunan di sana.  “Filosofinya, kalau ada tamu yang datang, kemudian melewati pintu, otomatis mereka harus merunduk.  Tanda kalau mereka hormat dengan pemilik rumah,” jelasnya lebih lanjut.

Bale Tani hanya terdiri dari dua ruangan, yakni bale depan dan bale dalam.  Bale depan digunakan untuk penghuni laki-laki, sementara bale dalam untuk penghuni perempuan.  Antara bale depan dan bale dalam dipisahkan oleh pintu geser dan anak tangga.  Di dalam ruangan bale dalam ini, terdapat dua buah tungku yang menyatu dengan lantai terbuat dari tanah liat yang digunakan untuk memasak.

Talim mengatakan, masyarakat biasanya memasak dengan menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya. Bale dalam ini tidak memiliki jendela dan hanya memiliki satu buah pintu sebagai jalan untuk keluar-masuk yang hanya terletak di bagian depan bale.

Selain Bale Tani, masih ada lagi bangunan yang menjadi bangunan khas Sasak. Bangunan ini sering disebut dengan Berugak. Berugak adalah sebuah bangunan panggung berbentuk segi empat yang tidak memiliki dinding, tiangnya terbuat dari bambu beratapkan alang-alang, dan disangga oleh empat tiang (sekepat), atau enam tiang (sekenem).

Berugak berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu, dan juga biasa digunakan sebagai tempat untuk berkumpul, berbincang – bincang serta bersantai selepas bekerja atau sebagai tempat pertemuan internal keluarga. Biasanya Berugak terdapat di depan samping kiri atau samping kanan Bale Tani. (bersambung)

Editor : Della Cahaya Praditasari

Follow Untuk Berita Up to Date