Mengintip Kehidupan Suku Sasak di Dusun Sade, Lombok Tengah (1)

Lombok, koranmemo.com – Berlibur ke Lombok tidak lengkap rasanya kalau belum berkunjung ke salah satu dusun yang masih menjunjung tinggi adat istiadat Suku Sasak, yakni Dusun Sade.  Di sana, wisatawan tidak hanya bisa berbelanja berbagai macam produk khas Suku Sasak, seperti tenun, gelang yang terbuat dari akar pohon, hingga baju khas suku tersebut.  Namun wisatawan juga diajak mengenal lebih dekat tentang kehidupan masyarakat di sana.  Mulai dari kepercayaan mereka untuk mengepel lantai rumah dengan tahi kerbau setiap tahunnya, sampai tradisi kawin culik yang tetap dipegang teguh sampai sekarang.

Dusun Sade memang tidak pernah sepi pengunjung.  Meskipun ketika hari efektif jumlah pengunjung berkurang drastis jika dibandingkan dengan akhir pekan, namun wisatawan selalu tampak keluar masuk dusun ini.  Oleh karena itu, masyarakat di dusun tersebut pun juga hampir tidak pernah memiliki hari libur.  Mereka selalu siap sedia menerima wisatawan yang datang ke sana dengan ramah dan terbuka, terutama para pemandu wisata yang merupakan warga asli dusun tersebut.

Lokasi yang strategis mungkin menjadi salah satu faktor penting ramainya Dusun Sade.  Dusun ini terletak di Kabupaten Lombok Tengah, hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari Bandara Internasional Lombok dan bisa ditempuh dengan waktu sekitar 20 menit.  Letaknya pun di tepi jalan besar dan ada plang nama bertuliskan ‘Welcome to Sasak Village, Sade, Rembitan, Lombok’.  Ditambah, setelah dari Dusun Sade ini wisatawan bisa langsung melanjutkan perjalanan menuju Pantai Tanjung Aan dan Bukit Merese yang sudah terkenal akan keindahannya.

Setelah turun dari kendaraan, wisatawan akan langsung disambut dengan pemandu wisata berpakaian adat Suku Sasak warna kuning.  Semuanya berjenis kelamin pria, karena pembagian tugasnya memang seperti itu.  Mayoritas pria bekerja sebagai petani dan pemandu wisata, sementara wanita menenun atau membuat kerajinan lainnya sambil menjaga toko.

Kalau biasanya ada wisatawan yang terbiasa menolak didampingi pemandu wisata, pemandu wisata di Dusun Sade ini tidak bisa ditolak.  Pasalnya, para wisatawan pasti membutuhkan mereka untuk mengelilingi dusun seluas lebih kurang 5 hektare ini dan untuk menawar barang-barang dagangan di sana.  “Kalau yang masih usia 50 tahun ke bawah masih paham Bahasa Indonesia.  Tapi kalau yang sudah 50 tahun ke atas, harus pakai Bahasa Sasak,” ujar Salim, salah satu pemandu wisata di sana.

Lagipula, menurut Salim para pemandu wisata di sana awalnya tidak pernah mengharapkan tips dari wisatawan.  Namun karena banyak wisatawan yang sering memberi mereka tips, lama kelamaan tips menjadi salah satu kewajiban bagi wisatawan yang datang ke sana.  “Tapi kami tidak pernah mematok harga.  Seikhlasnya saja, tidak memberipun tidak apa-apa,” kata pria berusia 25 tahun tersebut.

Selain memberikan tips bagi wisatawan, setelah melewati gerbang masuk ke dusun, sebelum melanjutkan perjalanan, wisatawan akan dituntun ke meja kecil yang di atasnya sudah ada buku tamu dan sebuah toples yang tertutup.  “Pengunjung silakan mengisi buku tamu dan di sampingnya ada kotak amal untuk bisa diisi seikhlasnya,” jelasnya.

Setelah itu, wisatawan bisa duduk-duduk santai di dua bale besar yang disiapkan oleh penduduk setempat sambil menikmati pertunjukan yang disajikan untuk menyambut wisatawan.  Nama pertunjukan tersebut adalah Peresean.

Salim menjelaskan, Peresean adalah seni bertarung khas Suku Sasak.  Sama seperti kejuaraan bela diri pada umumnya, Peresean juga hanya mempertandingkan dua orang yang disebut Pepadu.  Para Pepadu ini bertarung menggunakan senjata tongkat rotan yang panjangnya sekitar 1 meter dan perisai dari kulit kerbau yang keras.  “Kalau kena pukul kepala bisa sampai bocor kepalanya,” kata Salim.

Salim juga menceritakan, jika dalam pertandingan ada yang kepalanya sampai bocor,  pantang bagi mereka  meminta mundur hanya karena kepalanya berdarah.  Prinsip para Pepadu adalah harus bisa menyelesaikan 5 ronde tanpa pingsan apalagi menyerah.  Padahal menurut Salim, tidak semua Pepadu itu benar-benar jago bertarung.  Ada juga Pepadu yang maju karena dipilih secara acak oleh wasit yang disebut Pekembar.

“Niatan awalnya hanya nonton.  Tapi kalau sudah dipilih sama Pekembar untuk ikut bertanding, mau tidak mau harus ikut meskipun dia tidak jago sekalipun.  Setelah itu yang dipilih Pekembar juga bisa memilih sendiri lawannya,” tuturnya.

Selain untuk menyambut tamu yang datang di Dusun Sade, sebenarnya Peresean ini dulunya merupakan salah satu media untuk melatih ketangkasan para pria Suku Sasak.  Terutama pada masa penjajahan.  Mereka berlatih sepanjang hari agar bisa ikut berperang mengusir penjajah.  Seiring berjalannya waktu, Peresean juga dijadikan metode untuk memanggil hujan ketika musim kemarau berkepanjangan melanda dusun mereka. (bersambung)

Editor : Della Cahaya Praditasari

Follow Untuk Berita Up to Date