Mantan Direktur dan Bendahara RSUD Dijebloskan Jeruji

Tersangka Lilis Setyorini digiring petugas ke mobil tahanan. dokter Eko Sidharto saat bersama Kasat Reskrim Polres Nganjuk, AKP Deddy Iskandar dan Totok Budi Hartono. (Muji/Agus-Memo)
Tersangka Lilis Setyorini digiring petugas ke mobil tahanan. dokter Eko Sidharto saat bersama Kasat Reskrim Polres Nganjuk, AKP Deddy Iskandar dan Totok Budi Hartono. (Muji/Agus-Memo)

F- Dua 3*Dugaan Korupsi Pengadaan Barang Farmasi

Nganjuk, Memo-Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan dan ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi proyek pengadaan barang farmasi habis pakai tahun 2012 senilai Rp 12,9 miliar. Mantan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nganjuk dokter Eko Sidharto dan Kasubbag Perbendaharaan Lilis Setyorini, Rabu (27/8) sore, langsung dijebloskan ke rumah tahanan (rutan) kelas IIB Nganjuk oleh Kejaksaan Negeri Nganjuk.

Proses pelimpahan dari Polres Nganjuk ke Kejaksaan sekaligus evakuasi kedua tersangka ke rutan yang berada di sebelah Alun-alun Nganjuk tersebut berlangsung dramatis. Kedua tersangka didampingi kuasa hukumnya tak mengeluarkan sepatah katapun saat petugas Kejaksaan menggiring kedalam mobil tahanan.

Tersangka dokter Eko Sidharto mengenakan setelan dengan baju lengan pendek warna putih celana gelap lengkap dengan kacamatanya, sedangkan tersangka Lilis Setyorini mengenakan setelan baju PNS warna cokelat.

Terkait dengan langsung dijebloskanya kedua tersangka dugaan korupsi ke dalam lapas kuasa hukum tersangka Bambang Sukoco SH menyampaikan, sebetulnya pihaknya sudah langsung membuat surat permohonan penangguhan penahan, namun oleh Kejaksaan tidak dikabulkan.

“ Kalau permohonan penangguhan tentu sudah kami sampaikan, namun oleh Kejaksaan ditolak, alasan Kejaksaan karena masih banyak perkara tipikor lain,” ujar Bambang Sukoco di halaman kantor Kejari Nganjuk

kemarin.

Namun begitu, dalam jangka waktu tiga hari kedepan, akan kembali membuat surat permohonan penangguhan penahanan. “Karena Kejaksaan mengatakan sementara ditahan dulu, dalam waktu dua tiga hari kedepan kami akan membuat kembali surat permohonan penangguhan penahanan,” kata pengacara asal Bagor tersebut.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Nganjuk, AKP Deddy Iskandar membenarkan pihaknya telah melakukan pelimpahan tahap dua bagi kedua tersangka kasus korupsi RSUD Nganjuk. Dengan pelimpahan tahap kedua ini, secara resmi penanganan kasus beralih ke Kejaksaan. “Kedua tersangka berikut barang bukti sudah kita limpahkan ke Kejaksaana, jadi ditahan ataupun tidak itu wewenang Kejaksaan,” terang AKP Deddy.

Kedua mantan pejabat RSUD Nganjuk tersebut ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Nganjuk lantaran tersandung kasus dugaan korupsi proyek pengadaan barang farmasi habis pakai, yang anggaranya bersumber dari APBD 2012 senilai Rp 12,9 miliar.

Menurut Kasat Reskrim, pelimpahan tahap dua ini berdasarkan hasil penyidikan yang telah berlangsung sejak 25 Juni 2013 lalu. Tepatnya, setelah tim Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Nganjuk merampungkan gelar perkara kasus tersebut bersama tim Sub Direktorat Tipikor Polda Jatim di Surabaya.

“Pelimpahan tahap dua ini setelah kelengkapan berkas atau P21 sudah kita serahkankan terlebih dahulu, jadi tinggal melimpahkan kedua tersangka berikut barang buktinya,” papar AKP Deddy.

Dokter Eko bersama Lilis Setyorini dijerat dengan pasal pasal 3 junto pasal 9 UU Nomor 31/1999, yang diubah dalam UU Nomor 20/2001, tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. “Menguntungkan diri sendiri atau orang lain, serta menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan, dan kami menemukan indikasi penyimpangan anggaran senilai Rp 1,06 miliar,” jelas mantan pendidik SPN Mojokerto ini.

Informasi yang dihimpun Koran Memo, polisi telah memastikan kedua pejabat RSUD tersebut melakukan perbuatan melawan hukum, dengan cara menyuruh menggunakan keuangan BLUD untuk kepentingan pribadi. Selain itu, mereka juga telah melakukan tindak penggelapan dalam jabatan, dimana anggaran untuk pembelian obat-obatan, alat kesehatan, kedokteran, laboratorium dan radiologi.

Modus yang dilakukan, yakni dengan menyuruh menyediakan dana kontribusi stake holder, menyuruh menyediakan dana bertahap atau dana insidentil. Modus pengembalian uang dilakukan dengan cara pencairan bulan sebelumnya dibayar dengan pencairan bulan berikutnya.

Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Nganjuk, I Ketut Sudiarta kepada sejumlah wartawan mengatakan pihaknya telah menerima pelimpahan dari Kepolisian. Untuk selanjutnya, kedua tersangka akan ditahan di Rutan Klas 2B Nganjuk.

“Setelah melakukan rapat dengan Kajari dan seluruh kasi, kami memutuskan untuk menahan kedua tersangka, pertimbangannya karena keduanya tidak ada itikad baik untuk mengembalikan kerugian negara,” jelas Ketut.

Sementara, Kuasa Hukum tersangka Lilis Setyorini, Totok Budi Hartono mebenarkan jika klienya ditahan oleh pihak Kejaksaan karena alasan subyektif. “ Dengan hilangnya beberapa tersangka yang tidak ditahan, maka pihak kejaksaan melakukan penahanan terhadap klien kami, namun kami tetap mengupayakan penangguhan penahanan terhadap saudari Lilis Setyorini,” katanya. (jie/gus)

 

Follow Untuk Berita Up to Date