Mampu Lampaui Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Catatan Ekonomi Kota Kediri 2016

Sepanjang tahun 2016, pertumbuhan ekonomi di Kota Kediri diprediksi bisa menyentuh angka 5,7 persen.   Pasalnya, dilihat hingga kuartal III tahun ini, pertumbuhan ekonomi di kota tahu sudah mencapai angka 5,66 persen. Keadaan tersebut berkebalikan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang dipredikasi akan mentok di kisaran 5,02 persen. Jauh melebihi sasaran yang ditargetkan, yakni 7 persen.

Untuk Kota Kediri sendiri, menurut Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kediri, Djoko Raharto, sudah melampaui target yang ditetapkan, di awal tahun ini, yakni 5,5 persen. “Menurut saya ini termasuk prestasi yang cukup membanggakan, apalagi jika melihat perjalanan pertumbuhan ekonomi di Kota Kediri sejak 2012 hingga sekarang. Angka 5,7 persen ini adalah angka yang cukup tinggi, bahkan setara dengan pertumbuhan ekonomi provinsi,” ujar Djoko.

Memang, di tahun 2012 hingga 2013, perekonomian di Kota Kediri tidak bisa tumbuh bahkan turun. Tahun 2013, pertumbuhan ekonomi hanya bisa menyentuh angka 3,59 persen. Padahal di tahun 2012 pertumbuhannya masih 5,27 persen. Pertumbuhan ekonomi mulai membaik di tahun 2014 dan 2015, dan semakin baik di tahun 2016.

Menurut Djoko, hal ini tidak terlepas dari peran para pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Hingga akhir tahun ini, UMKM yang sudah tercatat di Dinas Koperasi dan UMKM Kota Kediri mencapai sekitar 8.000 UMKM, baik yang dikelola perseorangan maupun kelompok. UMKM tersebut tidak terbatas hanya pada industri mamin (makanan dan minuman) saja, namun juga industri kreatif seperti batik, tenun ikat, tusuk sate, hingga kemoceng.

“Dengan semakin banyaknya UMKM yang dikembangkan di Kota Kediri, otomatis ada banyak pula peluang kerja yang terbuka. Hal ini pun juga memiliki dampak yang signifikan dalam pertumbuhan ekonomi di kota ini,” jelas Djoko.

Berdasarkan data dari Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Kediri, tercatat di tahun 2016 ini sebanyak 19.928 tenaga kerja baru terserap di Kota Kediri.   Jumlah ini naik 100 persen dibandingkan tahun lalu, yang hanya berhasil menyerap 9.923 tenaga kerja baru.

Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar menuturkan, meningkatnya serapan tenaga kerja tersebut berbanding lurus dengan meningkatnya permintaan perizinan di BPM (Badan Penanaman Modal) Kota Kediri. “Setelah BPM mempermudah pembuatan perizinan, banyak warga yang tidak malas untuk mendaftarkan usahanya atau membuka usaha baru. Semakin banyak UMKM yang terbentuk karena memiliki izin usaha, maka tenaga kerja yang terserap pun juga akan semakin banyak,” ujar Mas Abu.

Terlebih, tahun ini investasi yang masuk ke Kota Kediri pun juga telah melebihi target yang ditetapkan, yakni Rp 500 miliar. Sebagian besar angka tersebut diperoleh dari berdirinya dua hotel baru di Kota Kediri, Citihub di Jalan Joyoboyo dan Viva di Jalan S. Parman, serta rumah makan XO di Jalan Hasanuddin. Melihat iklim investasi di Kota Kediri selama tahun 2016, Mas Abu optimistis di tahun 2017 nanti akan semakin banyak investor yang masuk ke Kota Kediri. “Tahun 2017, politeknik Kota Kediri hanya kurang 1 persen lagi menuju politeknik negeri. Jika itu terwujud, maka hal itu juga bisa menjadi magnet bagi para investor,” tutur Mas Abu.

Sementara dilihat dari sisi inflasinya, hingga November, akumulasi inflasi Kota Kediri masih terjaga di angka 1,45 persen. Meski gejolak harga sempat terjadi saat bulan Ramadhan yang jatuh pada bulan Juni menyebabkan harga gula menyentuh angka Rp 18 ribu per kilogramnya, namun TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) Kota Kediri mampu menahan laju inflasi dengan mengadakan Operasi Pasar Murah (OPM) selama satu bulan penuh. Menurut data dari BPS, di bulan tersebut, inflasi di Kota Kediri hanya sebesar 0,16 persen. Terendah jika dibandingkan dengan 7 kota penyusun inflasi di Jawa Timur lainnya. (ela)

 

Follow Untuk Berita Up to Date