Lelang Ilegal?: Penjual Degan hanya Terdiam Saat Rumahnya Dieksekusi

Pasuruan, koranmemo.com – Sribu Rahayu Ekowati penjual es kelapa muda (degan, Red) di Jalan Sultan Agung No 1Kelurahan Puturejo Kec. Purworejo Kota Pasuruan, hanya terdiam saat ratusan polisi dan tim juru sita Pengadilan Agama Pasuruan melakukan eksekusi lahan (pengosongan) rumah miliknya yang ditempati.

Berdasarkan Amar Putusan Pengadilan Agama Pasuruan Nomor : 2046/Pdt.G/2014/PA.Pas tertanggal 18 Agustus 2015. Ditentukan, bagian sebesar 23,046 % dari tanah dan Bangunan (SHM No.560), ini adalah bagian sah milik ahli waris bernama : Sribu Rahayu Ekowati binti Alm. Drs. Karijadi. Pada saat ini tanah dan bangunan tersebut masih menjadi bagian dari objek sengketa yang teregister dalam perkara nomor : 1788/Pdt.G/2017/PA.Pas di Pengadilan Agama Pasuruan.

“Banyak sekali polisinya. Silakan dieksekusi, saya hanya rakyat kecil yang berjualan es degan dan  tidak akan melawan,” ucap Sribu Rahayu Jumat (22/12/2017).

Semua barang dalam rumah Sribu, diangkut keluar dan dinaikkan ke truk oleh tenaga yang didatangkan juru sita dari PA Pasuruan. Termasuk 1.091 buah degan juga ikut dibersihkan dari teras rumahnya.

“Sebenarnya saya sudah bisa sabar menghadapi ini, saya hanya enggak tega saat proses eksekusi tiba-tiba anak saya bilang, bu, kita diusir. Hati saya menangis,” ucapnya lirih.

Dia menceritakan, kasus ini berawal dua saudaranya  dan ibu tiri meminta tanah dan bangunan seluas sekitar 400 m2 warisan orang tua ini dibagi. Saudaranya dan ibu tirinya mengajukan gugatan ke Pengadilan Agama terkait warisan tersebut pada 2014 silam.

Dari sengketa tersebut mendapat hasil keputusan Pengadilan Agama Pasuruan Nomor : 2046/Pdt.G/2014/PA.Pas tertanggal 18 Agustus 2015. Ditentukan, bagian sebesar 23,046 % dari tanah dan Bangunan (SHM No.560), ini adalah bagian sah milik ahli waris bernama : Sribu Rahayu Ekowati binti Alm. Drs. Karijadi.

“Sedangkan sisanya merupakan milik saudara saya yakni Dwi Wahyu Wintoro (penggugat I), Tri Santi Indah Lestari (Penggugat II), dan Sulamah binti Abdul Mannan (penggugat III) yang tak lain ibu tiri,” katanya.

Beberapa waktu kemudian, pihaknya tak menyadari jika sengketa yang sebelumnya sudah mendapat keputusan pengadilan tersebut berlanjut dengan proses lelang hingga eksekusi lahan (lelang).

Anehnya, proses lelang tersebut tanpa sepengetahuan dirinya sebagai ahli waris tertua. Dan Sribu juga tidak pernah membumbuhkan tanda tangan apapun dalam saat terjadi gugatan dan pelelangan itu.

“Saya enggak tahu kok tiba-tiba ada surat pemberitahuan lelang. Saya bilang, silahkan dijual bagian mereka, tapi apa yang menjadi hak saya jangan diambil. Karena saya masih jualan es degan dan bagian saya tidak saya jual karena ingat pesan orang tua,” imbuhnya.

Sribu menduga ada yang tidak beres dalam proses gugatan hingga muncul adanya lelang lahan yang berdiri rumah warisan orang tuanya itu. Ia merasa janggal lagi, saat proses lelang sekitar waktunya satu pekan, peserta lelang hanya seorang yakni H. Kelana Aprilianto yang tak lain pemilik hotel BJ Perdana sebelah rumahnya berjarak 15 meter itu.

Dirinya juga tidak pernah diberitahu soal risalah lelang. Termasuk lelang itu diumumkan melalui media apa juga tidak diketahuinya. Dalam hasil  pembagian lelang Sribu mendapatkan bagian uang senilai Rp 102 juta. Dan uang itu tidak diambilnya karena sejak awal tidak niatan untuk menjual. Uang itu dititipkan pengadilan (konsinyasi). “Sampai sekarang uang itu saya biarkan dan tidak saya ambil sampai kapanpun. Saya tidak menjual bagian waris saya,” tuturnya.

Sribu juga mengaku pengumuman lelang yang diketahuinya diumumkan melalui secarik kertas di papan pengumuman kantor PA saja dan tidak pernah melihat diumumkan di media cetak maupun online. “Sejatinya, saya tidak keberatan kalaupun rumah tersebut harus dijual, tapi bukan berarti dilelangkan dengan harga yang sangat murah,” sambungnya.

Sribu menuturkan keheranan, sebelum proses eksekusi beberapa bulan sebelumnya, saat membayar pajak, sertifikat yang semula beratasnama almarhum ayahnya (Karijadi), dirinya dan dua saudaranya, beralih nama sudah menjadi atas nama Kelana Aprilianto.

“Lah proses balik nama sertifikat itu kapan dan kok bisa berganti nama. Padahal saya pemegang hak waris obyek lelang dan yang atas nama nomor 2 dalam sertifikat setelah nama ayahya. Saya juga tidak pernah tandatangan maupun lainnya dalam peralihan nama itu. Saya buta hukum, tapi melihat kenyataan seperti itu, pasti ada permainan,” tuturnya.

Anggita Narendra Putra, S.H., kuasa hukum dari Ibu Sribu Rahayu Ekowati menyatakan, akan melakukan gugatan perlawanan terhadap eksekusi tersebut. Pihaknya menuding ada permainan dalam proses pelelangan rumah tersebut. Dan, akan mengidentifikasi proses lelangnya. “Jika terbukti dan ditemukan ada unsur pidananya, maka akan kami laporkan ke pihak kepolisian,” tegasnya saat didampingi rekannya, Yoerry P Noviantoro, S.H., M.H.

Sementara itu, Indra Bayu, S.H., pengacara Kelana Aprilianto (pemenang lelang) menyatakan dari hasil gugatan itu, Pengadilan Agama (PA) Kota Pasuruan memutuskan 23,046 % bagian yang diterima untuk Bu Sribu. Sisa hasil pembagian untuk Bu Sribu diberikan akan diberikan kepada 2 saudara dan 1 ibu tirinya.

“Putusan PA menyatakan pembagian kepada Bu Sribu yakni sebesar 23,046% dan sisanya dibagikan ke ahli waris lainnya,” jelas Indra Wahyu, S.H., kuasa hukum dari Kelana Aprilianto yang dalam perkara ini sebagai pemenang lelang.

Wahyu menuturkan, hasil pembagian Ibu Sribu sebesar 23,046 % jika dirupiahkan sekitar Rp.102 juta lebih.

“Karena tanah dan bangunan tersebut tidak memungkinkan jika harus dibagi, maka diberikan dalam bentuk uang. Sekitar Rp. 102 juta lebih bagian untuk Bu Sribu,” ucapnya

Karena PA tidak bisa menjual, maka memutuskan untuk dijual melalui sistem lelang. “Pak Kelana ditawari PA karena cocok, lalu dibeli. Maka kluarlah putusan lelang. Dr putusan lelang tersebut resmi dimenangkan oleh Pak Kelana. tambahnya.

Jadi hari ini Jum’at (22/12/2017) kami melakukan eksekusi atas rumah tersebut. “Rumah ini secara De jure milik Bapak Kelana,” tutupnya.

Reporter: Yudhi Ardian

Editor: Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.