Konsep Kolosal Bakal Warnai Wajah Baru Alun-alun Trenggalek

Trenggalek, koranmemo.com – Perpaduan konsep kolosal bakal mewarnai wajah baru kawasan ruang terbuka hijau (RTH) di jantung Kota Keripik Tempe, sebutan untuk Kabupaten Trenggalek. Pasalnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek saat ini tengah melakukan perombakan wajah Alun-alun Kabupaten Trenggalek. Konsep kolosal ini menjadi wujud keseriusan Pemkab Trenggalek untuk tetap melestarikan warisan Nusantara.

Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak mengatakan, perombakan wajah jantung kota ini bakal dilakukan secara bertahap. Saat ini Pemkab telah merombak tugu pancasila yang merupakan ikonik di Alun-alun Kabupaten Trenggalek. Pemkab juga telah membenahi sejumlah fasilitas di kawasan alun-alun seperti penambahan wahana permainan anak hingga beragam tanaman dan pepohonan.

“Pembenahan alun-alun kami lakukan secara bertahap. Kita sudah melakukan pembenahan seperti tugu Pancasila. Pertama lebih terbuka kemudian dilengkapi dengan air mancur yang dirasa cukup ramah pengunjung. Esensi alun-alun harus terbuka,” kata Emil dalam Launching Maket Alun-alun Trenggalek di Pendapa Manggala Nugraha Praja, Kamis (17/1).

Pasca merombak tugu Pancasila sisi sebelah selatan, Emil menyebut nantinya juga akan menyeragamkan pagar gedung di sekitar kawasan alun-alun. Pagar gedung hingga sekolahan yang dibuat seragam dilakukan untuk menciptakan nuansa kolosal. Emil ingin menciptakan nuansa kolosal saat memasuki jantung kota sehingga nantinya kesan original melekat pada wajah Alun-alun Kabupaten Trenggalek.

“Konsepnya kolosal, kami akan mengembalikan konsep klasik ini. Pagarnya (alun-alun,red) sifatnya tanaman. Kemudian tembok gedung yang ada di sekitar alun-alun disamakan dengan konsep bata ekspos sehingga suasana klasik akan muncul saat pergi ke tengah kota. Jalannya bukan lagi aspal tapi dibikin batu-batu alam. Pedestriannya dibikin lebih rendah dan lebar,” kata Emil, sembari menyebutkan untuk pembenahan secara global menggelontorkan dana sekitar Rp 2,5 miliar.

Namun untuk mewujudkan itu perlu kinerja dan komitmen semua pihak, termasuk peran serta masyarakat dalam mendukung penataan kota yang baik tanpa mengesampingkan aspek perekonomian masyarakat. Pasalnya tidak dapat dipungkiri, saat ini acap kali ditemui adanya sejumlah pedagang kaki lima ataupun pedagang serupa lainnya yang berjualan di dalam alun-alun meskipun dilarang.

“Sebenarnya sentra kuliner di sisi selatan dan utara pendopo. Kalau kita melihat realita sebetulnya pengunjung pun menikmati jika ada (PKL di dalam alun-alun,red). Oleh sebab itu kita cari solusi, tetap memberi kenyamanan pengunjung dan tetap memberi peluang kepada pelaku ekonomi kecil,” ujar Wakil Gubernur Jawa Timur terpilih itu.

Solusi itu, lanjut Emil antara lain dengan memberikan waktu-waktu tertentu untuk berjualan maupun dengan pemberian identitas pedagang. Pasalnya tidak dapat dipungkiri saat ini jumlah pedagang kian bertambah ketimbang beberapa tahun sebelumnya. Bahkan tak sedikit para pedagang yang harus berurusan dengan petugas penegak peraturan daerah (perda).

“Kami sedang mencari solusi. Memang kawasan ini memang tidak boleh katakanlah orang berjualan permanen. Tapi kalau sepeda kadang masuk, ada mbok-mbok jualan pecel, nggak sampai hati kemudian saya untuk tidak mengizinkan, asalkan mungkin bisa menjaga kebersihan. Sudah mungkin kita membagikan kartu sehingga yang masuk dibatasi dan konsepnya itu (bukan mobile,red ) diluar dan jamnya kita aturlah,” pungkasnya.

Reporter Angga Prasetya

Editor Achmad Saichu

Follow Untuk Berita Up to Date